Sabtu, 19 Desember 2009

Kok masih Rasis, mamen?!












Hai, guys!


Buset, udah tiga hari ini saya posting berturut-turut. Hahaha, mudah-mudahan nggak pada bosen ya baca postingan saya yang nggak jelas? 
Saya juga jadi heran, kenapa sekarang kok jadi rajin begini ya? Padahal kemaren-kemaren, mau posting seminggu sekali aja susahnya minta ampun. Tapi sekarang kok jadi semangat begini? Apa ini efek dari nggak mandi seminggu ya? - ah sudahlah. Atau apa ini karena saya udah gantengan sekarang? - not again, please.


* * * * *


Here we go..


Belakangan ini, saya punya kebiasaan ngaskus loh kalo udah malem-malem gini. Ngaskus ria sekalian nunggu rasa mengantuk itu dateng. Uhm, saya ngaskus di Kaskus [dot] us loh *krik*. Dan saya ngaskus itu buat nyari gambar BB++ informasi bermutu loh, sungguh. Nah, dan entah kenapa barusan saya nyasar aja di trid ini


Trid tersebut menceritakan tentang sebuah kekhilafan yang dilakukan oleh pihak TreMo TV dalam salah satu tayangannya yang membahas tentang skandal Bank Century dan profil Anggodo yang diduga dalang dibalik kasus tersebut. Kalo diliat dari topik yang disajikan, nggak ada yang salah, nggak ada yang aneh, dan nggak ada ya yang jual gorengan malem-malem gini? - yaelah, meracau!
Bener kan? Nggak ada yang salah dengan isu yang diangkat. Toh, banyak juga acara-acara serupa yang membahas masalah yang sama. Jadi kenapa ini menjadi bermasalah?


Nah, yang menjadi masalah adalah apa yang dikatakan oleh si narasumber yaitu Ichsanudin Noorsy, eks anggota DPR dari partai Golkar. 
-mang dia kenapa?-
Menurut nformasi yang bisa saya tangkep - dengan otak sebesar modem HSDPA - dari trid ini dan juga ini dan mungkin juga ini, adalah bahwa si narasumber a.k.a Pak Ichsanudin Noorsy mengeluarkan sebuah statement yang mendeskreditkan salah satu ras keturunan yang ada di negeri ini. Di negeri yang harusnya sudah mengharamkan tindakan rasisme, setidaknya sejak peristiwa 98.


Cukup!
Saya nggak mau ikutan ngebahas kekhilafan TerMo TV ataupun Pak Ichsanudin Noorsy selaku narasumber acara itu ataupun bla bla bla. Apalagi membahas kasus Luna Maya.
Yang menjadi pemikiran saya sekarang adalah, kok masih ada ya perlakuan rasis di sekitar kita? Malah banyak, mungkin. 
Pelakunya juga kok bisa beragam gini ya? Bahkan seorang mantan wakil rakyat juga terlibat?
WHAT THE.. !?


Sedikit nyambung dengan hal di atas..
Beberapa hari yang lalu, abang-abang yang tinggal di sebelah kamar kosan saya nyeritain tentang pengalamannya kerja dan hidup selama lebih dari 15 tahun di Belgia. Katanya di Belgia sana, orang dari Asia dan Africa sering dipandang sebelah mata oleh penduduk setempat yang mayoritas bule. Mungkin kalo sekedar ngobrol, berinteraksi seadaanya atau mungkin berteman, sikap seperti itu masih belum keliatan. 
Tapi kalo si orang Asia atau Afrika ini mau ngedeketin cewek atau cowok dari kalangan mereka, katanya bakalan sulit. Lebih sulit daripada niruin gaya rambut Master Deddy Corbuzier sepertinya.


Katanya sih karena kebanyakan orang Eropa menganggap bahwa ras Asia dan Afrika kasta-nya masih beberapa level di bawah mereka. Sebenarnya hal seperti ini udah ada dari dulu, dan sisa-sisanya masih bertahan hingga kini. Padahal kalo dipikir-piir, kebudayaan mereka kan jauh lebih maju dari mayoritas negara Asia Afrika? Tapi kok pola pikirnya masih begitu? masih..err.. KUNO!
Bener atau nggak apa yang dibilang si abang, saya juga nggak tahu. Mudah-mudahan kondisinya nggak segitu buruk. Kesian aja orang-orang Asia Afrika yang ngejomblo karena nggak laku. Kalo mereka jadi maho, siap yang tanggung jawab dong?
Setelah mendengar ini, saya cuma bisa berpikir. Tanpa pernah tahu pasti apa yang saya rasa sebenarnya. Miris? Pasti. Merasa gak adil? apalagi. Laper? Banget - yang terakhir nggak nyambung memang.


Lanjut..
Malam harinya, saya dan pacar pergi lah ke sebuah supermarket di pinggir kota pake motor. Ceritanya si pacar mau nagih utang es krim yang udah saya janjikan sejak dua tahun hari yang lalu. Dan setelah ngumpulin recehan di bawah kasur tetangga, kita berdua berangkat ke supermarket buat beli es krim itu. Mengetahui hal ini, pacar pun sumringah tiada tara, senyumnya lebar. Bahagia banget keliatannya. Namun senyum itu segera hilang waktu dia saya bisikin-- "shampoo kamu bau bensin."


Beres beli es krim, saya ngajak pacar buat makan es krimnya di parkiran aja, dengan duduk di emperan. Dan karena dasarnya kita berdua punya bakat menggembel, dengan senang hati kita lesehan di deket trotoar. Saya lihat si pacar makan dengan riang gembira, senyumnya lebar, selebar gerobak becak. Namun, sekali lagi senyum itu hilang waktu saya bisikin -- "Hidung kamu mancung. tapi kok ke dalem ya? mana bentuknya kayak tomat lagi.."
Setelah dua pelecahan di atas, si pacar murka. dan sebagai ekspresi kemarahannya, dia mulai menjambak bulu ketek saya.


Dan waktu asik makan es krim, saya dan pacar kompakan melihat beberapa orang bocah keturunan India dengan menaiki sepeda masuk ke dalam area parkir supermarket. Setelah memarkirkan sepeda masing-masing, mereka masuk ke dalam supermarket dengan celotehan yang riuh rendah. Saya nggak gitu memperhatikan mereka sih sampe akhirnya mereka keluar ke parkiran lagi. 


Sebelum beranjak pulang, salah satu dari bocah-bocah itu lalu becandaan dengan tukang parkir yang ada di situ. Biarpun saya nggak tahu apa yang tengah mereka omongin, tapi saya meliat sebuah keakraban disana. Di antara si warga keturunan dan si penduduk asli. Nggak ada jarak terlihat. Mereka tampak begitu akrab. Nggak ada rasa risih. Yang ada hanyalah semangat persatuan. 


Bhinneka Tunggal Ika.


Meskipun ada perbebedaan warna kulit, perbedaan kebudayaan, toh mereka anak Indonesia juga. Toh, mereka juga masa depan bangsa ini.


Anyway [dan lagi-lagi] saya mengajak sahabat-sahabat semua untuk berkaca pada diri sendiri. dan mulailah bertanya dalam hati..


Sudahkah saya mengharamkan tindakan rasis selama ini?


Saya yakin, banyak dari kita yang udah mengharamkan tindakan rasis dari dulu. Kalo memang udah, mari [lagi-lagi] kampanyekan hal ini pada orang-orang sekitar kita, untuk menjauhkan tindakan rasis. Kedengaran sepele, tapi ini tentang jai diri bangsa. Jati diri Indonesia. Atau nggak usah jauh-jauh, ini adalah tentang jati diri kita sebagai orang yang berbudi.


Hanya orang bodoh yang rasis. 


Hanya orang bodoh yang rasis. 


Hanya orang bodoh yang rasis. 


Tekankan itu pada batin kita.
Tapi bukan berarti dengan menjadi tidak rasis, anda bisa menjadi pintar dan lulus UI hanya dengan menghitung kancing baju. Jangan nekat mencoba. 


Akhirnya, mari lah kita jadikan bumi mejadi tempat yang lebih indah. Mulai dari diri sendiri, kalo bukan kita, SIAPA LAGI?






dan..
Me, out guys! Salam dangdut selalu :)


Jumat, 18 Desember 2009

Tiga kata sakti mandraguna!


Holla, world!


Belakangan ini, saya teringat terus sama sebuah iklan 'berisi' dari radio ini. Saya lupa juga sih gimana-gimana dialog yang dipakai dalam iklan tersebut. Cuma dengan ingatan sekelas batere bekas ini, saya cukup bisa menangkap apa maksud dari iklan itu.
Yaitu..


"Mari kita budayakan penggunaan kata Maaf, Terima Kasih dan Tolong"


Simpel kan?
Kalo diitung-itung, apa sih susahnya ngucapin kata-kata di atas itu. Bahkan kata-kata Maaf, Terima Kasih dan Tolong lebih enteng di lidah daripada umpatan-umpatan khas mafia nigger yang lagi ngetrend di kalangan remaja sekarang. - remaja salah gaul maksudnya x)
Biarpun enteng, tapi tanpa kita sadari, kata-kata tersebut memilikki magic yang nggak bisa dikata, tapi terasa di hati. Saya selalu percaya, kata-kata di atas bisa membuat kita jauh lebih dihargai oleh orang lain. Kenapa? Karena dengan menggunakan kata-kata Maaf, Terima Kasih dan Tolong itu tadi, artinya kita juga lebih bisa mengharai orang lain. Sesuai dengan ungkapan, kalo nggak mau dicubit, jangan nyubit. Nah ini versi positifnya. Bayangin deh, dunia bakalan jauh lebih indah dan berwarna dengan pembudayaan kata-kata tersebut dalam percakapan kita sehari-hari. 


Berikut ini saya tampilkan beberapa contoh dari penggunaan kata Maaf, Terima Kasih dan Tolong yang tepat dalam sebuah kalimat. 


* Bibi, tolong ambilin minum buat temen-temenku ya. Makasi ya, Bi. - pasti si bibi ngambilnya semangat
* Oh iya. Makasi ya kemaren kamu udah temenin aku pulang. Aku seneng deh. Mama juga bilang makasi buat kamu lho.. - pasti dah gebetan kamu jadi tambah giat dan semangat PDKT-nya
* Mbak, Maaf ya. Kemaren saya ngintip waktu mbak lagi mandi. Kemaren-kemarennya juga saya ngintip sih mbak. Uhm kalo bole jujur sebenernya, udah sepuluh tahun ini tiap hari saya ngintipin mbak mandi. Maaf ya, Mbak.. - kalo ini pasti mbaknya semangat juga. semangat ngumpulin massa buat ngebakar orang tersebut :p


Anyway..
Mau setuju atau nggak, kenyataannya memang sekarang ini udah banyak banget orang yang nggak lagi membudayakan penggunaan kata-kata sakti mandraguna tersebut. Mungkin jumlah orang-orang yang membudayakan kata-kata ini, masih jauh kalah banya dengan jumlah fansnya Rhoma Irama di sekitar Condet aja. - belom lagi di Parung, Bogor dan Rawa Belong dan sekitarnya..


Makanya, marilah kita sama-sama kampanyekan penggunaan kata Maaf, Terima Kasih dan Tolong ini! Nggak usah jah-jauh, mulai aja dari diri sendiri dulu. Kalo diri sendiri udah mantep, baru dah ajarin ke adik-adik kita. Ajari mereka yang baik-baik. Saya yakin, anak-anak Indonesia ini nantinya bisa jadi generasi yang jauh lebih beradab. Amin.


INGAT!


Ngucapin kata Maaf, Terima Kasih dan Tolong selagi berbicara nggak sesusah kelihatannya kok.


* * * * *


p.s : Selamat Tahun Baru Islam 1431 H ya, guys! Mudah-mudahan kita semua diberi umur yang panjang dan berkah. Amin.


p.s-nya p.s : nuhun ya guys, kalo postingan saya ini ngelantur dan sotoy dan jga kependekan :)








Me out, guys! Salam dangdut selalu :)