Minggu, 16 Maret 2008

- kopi manis itu pahit -

PERHATIAN : mungkin ini sambungan dari postingan kemaren. Tapi, tetap, cerita ini tanpa ending yang mudah untuk bisa dipahami, karena mungkin kisah ini belum diakhiri bahkan BENAR-BENAR dimulai.




Hamparan hutan yang mulai gundul selama 3 jam perjalanan terakhir, kini telah berganti dengan barisan ruko-ruko yang sibuk dengan segala kegiatan penghuninya. Tumpukkan alang-alang di teduhnya pinus tadi, kini berganti dengan suara bising segala macam kendaraan yang memaksa saya untuk tetap berpikir. Entah berpikir tentang apa. Namun saya berusaha tetap berpikir, mengimbangi tuntutan ego yang tak pernah berhenti menjamah dan mencaci dengan membandingkan diri ini pada sebuah kenyataan yang—---memang—---membunuh perlahan.

Bus kini telah memasukki stasiun. Sebuah stasiun yang tidak begitu besar, dan tidak juga kecil. Stasiun ini lah, tempat dimana terakhir kali saya bertemu “dengannya”. Dengan “dirinya” yang mengecup punggung tangan ini pelan di saat saya harus pergi. Pergi pulang, kembali pada rutinitas penuh kebohongan. Pada rutinitas yang akhirnya memisahkan kami.

Saya kini tengah berhadap-hadapan dengan abang-abang germo sesaat setelah sepasang kaki berlindungkan sendal ini menyentuh tanah dari kota dimana sempat saya titipkan segala harapan.
‘Ade sekarang mau kemana?’ dia bertanya pada saya yang sedang sibuk memperhatikan celotehan para supir taksi dan tukang becak yang berbaur mencari rezeki masing-masing dari mereka yang baru tiba di kota itu.
‘Saya eggak tahu bang. Mungkin ke rumah temen.’
Dia mengangguk.
‘Oke, kalo gitu saya balik duluan ya de. Semoga sukses. Ingat, pertahanin cinta kamu, selama kamu rasa itu benar.’ Katanya seolah telah khatam dan mengerti tentang semua yang saya rasakan. Meskipun, saya akui dia memang enggak salah dengan segala spekulasinya itu.
‘Iya bang. Salam ma keluarga abang.’ Kata saya mencoba tulus.
‘Salam juga untuk cinta kamu.’
‘Insya Allah.’
Pertemuan singkat kami diakhiri dengan jabatan erat, layaknya seorang sahabat lama. Timbul penyesalan mendalam dalam hati, ketika saya menyadari ternyata dia adalah orang yang baik, dengan segala kekurangannya—yang sok tahu—itu.
Kita memanng terkadang lupa, cara terbaik menilai sesorang.
Kita selalu mencoba berusaha paham pada semuanya, disaat kita menjudge seseorang itu baik atau tidak, dengan hanya penilaian yang berdasar pada kenyataan yang mungkin semu. Kurang ajarnya kita, disaat kita udah mulai berani mengkotak-kotakkan manusia dalam beberapa jenis dengan bermodalkan skala tanpa ketetapan yang mungkin hanya dimilikki oleh-Nya. Padahal, hakikinya kita semua sama. Hal ini yang selalu luput dari ingatan yang telah dibutakan nafsu dunia.


Sekarang, saya hanya terdiam. Mencoba memikirkan cara terbaik untuk memulai semuanya, hari ini.
Tanpa sadar, kaki ini telah membawa saya ke dalam sebuah warung kopi pinggir jalan yang mulai ramai oleh manusia dari berbagai kelangan, mulai dari tukang becak berbaju lecek hingga orang kaya bergaya necis yang turun dari Land Cruiser mewahnya. semua berbaur, menjadi satu. kebersamaan.
Kemajemukkan yang indah.
Secangkir kopi hitam----yang sengaja saya pesan dengan gula ekstra----tanpa ampas telah tersaji manja di hadapan. Menggoda untuk sekadar diperhatikan. Perlahan, saya mulai menghirup kopi itu.
Kenikmatan dari secangkir kopi yang hanya saya dapatkan disini, di tempat ini.

‘Halo.’ Kata saya pada sebuah sambungan telepon dengan seorang sahabat.
‘Halo. Ada apa?’ jawabnya.
‘Aku udah “disini”, bisa jemput aku?’
‘Kok tiba-tiba? Ya udah, tunggu sebentar disana. Aku jemput.’

Entah kenapa, kopi nikmat itu serasa lumpur ketika saya sadari, kini kedatangan ini, tidak diharapkan olehnya.
Tak seperti biasa, kali ini saya tidak mampu menepis pemikiran itu. Saya sadar, saya jatuh. Ke dalam sebuah teater besar tentang realita yang berakhir pahit, sepahit kopi manis itu.


Ps: cerita ini ENGGAK ada moral of the story-nya. Hanya sebuah kejadian luar biasa pada manusia biasa. Saya.





I’m out*
gambar dari sini.

11 komentar:

mellovegood mengatakan...

ga ngertiiii ehehehe
(maklum otak masih cetek)
eh eh tp kata2nya keren loh!

tehaha mengatakan...

pok..
ada apa denganmu..??
sedih kah..??
paragraf terakhir tentang tamu yang tak dundang yah..??

loper mengatakan...

Nikmatilah Bung, karena memang kadang semua tidak seperti yang kita harapkan, semoga tidak bosan dengan hal seperti itu, karena tiap orang punya masalahnya sendiri, semoga Teman tetaplah Teman, apapun dia adanya.


salam

Eucalyptus mengatakan...

Jadiiiiiii? Gimana dong endingnya? Mo diterusin ato enggak?

arifanda mengatakan...

wahhhh dalem bangettt nehhh...
kok kayaknya di beberapa postinganmu yg baru-baru ini kamu lagi mikir yg dalemmmm gitu?

whatz wruonggg....katanya Tukul...

hmmm...
aku setuju sama Loper...
enjoy your life aja..both good or bad..semua harus disyukuri...

Wini mengatakan...

Kopi itu pahit, gula yg bikin manis, jadi sedaplah diminum. Realita hidup jg kadang pait, ambil sesendok gula, buatlah yg pait itu jadi enak terasa. Seenggaknya rasa pahitnya berkurang...

intan mengatakan...

wahhh... postingannya dalem euy.. Salam kenal ya:)

ajenkajenk mengatakan...

jawaban doi ituh...

mungkin bukan berarti dia gak mengharapkan kehaditan lo pok..

tapi mungkin dia kaget dan lom mempersiapkan diri untuk menyambut dirimu... menyambut orang spesial kan btuh persiapan hehehe...

positif thinking booooo....

:: ing :: mengatakan...

dari mana tau klo kehadran kamu gak diharepin pok??????

SASSY mengatakan...

hidup lebih indah dengan saling berbagi dan memberi. Jadi.. berbuat baiklah tanpa meminta pamrih.. hehe..
maksudnya.. ga penting apa kehadiran lo diharapin ato gak, yg penting lo sudah coba memberi yg terbaik :)
ngerti ga ya??

ipied mengatakan...

komentarku....kopi hitam itu jangan manis2, aku gak terlalu suka, enak dia tetap pahit dan sedikit kental....hem....jadi pengin ngopi...

eh mau nonton yang mana? yang di aksara? lho emang kamu di mana?di sumatra?masa sih? datanglah ke jakarta.......heheheh