Kamis, 13 Maret 2008

- sebuah perjalanan di masa lalu -

PERHATIAN : post kali ini mayan panjang dan mempunyai ENDING yang gantung. ini salah satu bagian dari hidup saya, yang sedang saya coba untuk rangkaikan.




‘De, mo kemana? Udah ada tiketnya?’ tanya seorang bapak-bapak yang saya sinyalir adalah seorang supir bus atau mentok-mentoknya calo tiket musiman.
‘Udah pak.’ Kata saya sambil senyum sekedarnya.
Lantas bapak itu pamit ninggalin saya, dengan segaris kekecewaan di matanya.
Sepeninggalan tuh bapak, saya inisiatif untuk ngelapor tiket yang saya punya ke loket yang ada gak jauh dari situ.
‘Pak, ini.’ Kata saya pada seorang bapak botak yang ada di balik kaca loket.
Tanpa melirik, dia segera mengambil tiket yang saya sodorkan, dan mencocokkan dengan buku setebel pintu kulkas yang ada di hadapannya.
Sambil nunggu itu bapak melakukan tugasnya, saya ngiderin pandangan ke dalam kantor tempat dimana loket itu berada. Kantor itu lumayan besar, tampak sebuah Plasma TV besar yang menggantung di dindingnya, menimbulkan kesan mewah dari sana.
‘Ini de tiketnya. Nomer platnya ini.’ Si bapak menunjukkan nomor plat bus yang bakal membawa saya bertemu dengannya.
Ketemu dengan dia yang saya sayangi, seenggaknya saat itu.

Sekarang? Mungkin, meskipun... ah, sudahlah.


saya melirik jam di ponsel monokrom yang saya punya. 21:05. masih ada sekitar setengah jam lagi, sebelum akhirnya saya berangkat.
Selanjutnya, saya langsung beranjak ke ruang tunggu di sebelah loket. Dan duduk di salah satu bangku kosong disana. Tak jauh dari tempat saya duduk, ada sepasang paruh baya yang terlihat begitu jumawa. Si ibu yang berjilbab itu sadar sedang saya perhatikan, balik ngeliat ke arah saya, dan tersenyum. saya pun tersenyum.

Gak tau mau ngapain, saya ambil sebuah mp4 dodol yang saya milikki yang mereknya pun saya enggak tau apa. saya mengambilnya dari dalam tas lusuh yang selalu saya bawa, yang telah menemani saya sejak kelas 3 SMA, dan beli dari hasil korupsi uang bimbel saat itu. buka aib*

Sayup-sayup dari Headset yang saya pakai, terdengar lagu yang dibawain mbah Sting judulnya Englishman in New York.

I’m an alien..
I’m a legal alien..
I’m Englishman in New York..


Mendadak saya juga merasa seperti seorang alien.
Seorang alien yang bodohnya terdampar di negeri tanpa arah, terdampar pada sebuah kumparan kenyataan tanpa harapan. Terdampar di dunia yang tidak mengijinkan makhluknya untuk berharap lebih. Tiba-tiba saya merasa kesadaran ini terasa disedot ke dalam. Ke dalam semua pemikiran yang beberapa waktu belakangan ini membebani.
Terlintas sebuah pertanyaan konyol lagi di benak saya ; “sedang apa saya disini? Untuk apa saya pergi? Sementara kedatangan saya enggak pernah diharapkan olehnya. senggaknya saat ini”

Ah, biarlah…

Cepet-cepet saya tepis pertanyaan atau mungkin sebuah dakwaan itu dari kepala. Seenggaknya, mungkin ini bisa datengin pemecahan dari semua pusaran permasalahan ini. Mudah-mudahan, pengorbanan saya pinjem duit kanan-kiri di akhir bulan ini----biar bisa beli tiket bus---gak sia-sia.




Bus yang saya tumpangi sudah mulai meninggalkan kota. Kini saya duduk di salah satu bangku di pinggir jendela, bersebelahan dengan seorang abang-abang yang tampilannya lumayan necis, persis gaya germo-germo negro di amrik.

‘Sendiri aja de?’ tanyanya.
‘Iya bang. Situ?’
‘Sama. Oh ya, saya baru dari Malaysia loh.’
saya lumayan kaget dia ngomong gitu. Maksud apa dia coba promosi gitu? Pamer?
saya cuman ngangguk-ngangguk aja, dan mulai merasa keganggu. Sejenak, saya merasa dia seperti berusaha membujuk saya untuk menjadi seorang TKI.
‘Disana enak loh de.’
‘Iya bang?’ kata saya berusaha terlihat tertarik.
‘Ya iya dong. Enak, gak kayak disini.’ Katanya penuh semangat. ‘Disana tuh kan de, gedungnya besar-besar, kotanya juga bagus blablabla…’
saya ngangguk-ngangguk. Sambil dalem hati mengutuk.
Sial. Maksud hati gue pengen merenung selama perjalanan kayak di pilem-pilem Korea, atau sekedar mengadu pada bulan tentang apa yang saya rasain.

‘Disana juga makanannya enak de blabla…’ si abang germo dodol masih ngoceh.
saya terpaksa nahan senyum dalam posisi sempurna.
lama-lama saya denger nih germo ngoceh, bisa-bisa saya dateng bulan beneran.

‘Nanti kalo ada rezeki, saya mau kesana lagi de.’ Katanya lagi.
‘Iya bang? Bagus deh.’ Kata saya sengaja rada ketus, biar dia berasa kalo dia udah ngeganggu ketentraman umat sedunia.
‘Ade juga, kalo ada duit kesana gih.’
‘Eh. Iya bang.’
set dah.
Sekarang saya dan dia terlihat seperti sepasang homo belum disunat. Sesekali saya menyadari, bulu roma saya berdiri bergantian.

Terlihat secercah harapan di mata saya, ketika dia mulai terlihat seperti hendak bersiap-siap untuk tidur dengan bersandar di kursinya. saya pun langsung siap-siap mau pasang headset----dengan senyum mengembang tentunya.

‘Ade ada urusan apa mau “kesana”?’
Belum ada 5 menit diem, nih germo nekat ngomong lagi. saya sadar, dia nanyain tujuan saya dateng ke kota itu. Tempat yang kita sama-sama tuju.
‘Ke rumah temen bang.’
Dia diem sejenak, dan mulai menyingkapkan selimut menutupi separuh badannya.
saya mulai senyum-senyum lagi berharap kali ini dia tidur beneran.
‘Pacar?’ tanyanya lagi tiba-tiba.
‘Maksud abang?’
‘Iya, temen apa pacar?’
‘Oo.. ehm, ya gitu.. Pacar juga disana. entah saya dianggap atau enggak. saya gak peduli, yang penting saya sayang dia.’
Dia diem lagi. saya jadi tambah curiga.
‘Hebat kamu de.’
‘Maksud abang?’
Dia diem lagi, tampak berpikir.
‘Kamu hebat. Gigih pertahanin hubungan kamu, meskipun jauh. meskipun kamu tahu, keberadaan kamu entah dianggep atau gak.’ Katanya jumawa.
saya diem. Sedikit tersentak mendengar penuturannya.
‘Perjuangin terus. Siapa tahu, itu jodoh kamu.’ Dia melanjutkan ucapannya.
saya replek melihat ke arah langit di luar jendela.
‘Iya bang.’ Kata saya yakin.
Dari ekor mata, saya bisa melihat dia tersenyum. Selanjutnya, dia mulai mendekap kepalanya ke dalam selimut.
tertidur.

saya speechless saat mengingat ucapannya. Bener yang dia bilang. saya harus bisa perjuangin apa yang saya anggep bener. Dan yang paling penting, mudah-mudahan semua yang saya perjuangin ini bener.


Bus yang saya tumpangi meluncur cepat di jalanan yang sedikit basah oleh gerimis sore tadi. saya hanya mencoba menikmati pemandangan malam ini yang terpancar dari kaca jendela.
Deretan pohon-pohon dan rumah yang ada di pinggir jalan, membentuk sebuah siluet semu yang sekejap tampak nyata. Lantunan musik mellow terdengar dari balik headset yang saya kenakan.
Tapi tiba-tiba musiknya mati.
Langsung saya cek si mp4 dodol dengan dendam kesumat berlebih.
Error.

BLETAK.
Banting mp4 ke pegangan tempat duduk*
Musik maen lagi.
saya coba buat tidur.





saya terbangun tepat pada saat bus berhenti di sebuah mesjid di daerah landai setelah dua pertiga perjalanan itu terlampaui. Sekilas saya lirik jam di hape, jam 6 kurang 10, waktu subuh udah masuk. Segera saya pake sendal, dan bergegas keluar sholat. Si abang germo di sebelah saya udah gak ada, kayaknya udah keluar duluan. Selangkah keluar dari bus yang amat sangat dingin dengan AC pool-poolan, badan saya merinding lagi diterpa angin subuh yang lebih dingin tentunya.
Gak butuh waktu lama, sampai saya selesai menunaikan kewajiban dan kembali duduk manis di bus. Badan saya gemeter hebat. Dinginnya pagi di luar sana, membuat dinginnya AC di dalam bus serasa lebih hangat.

Bus melaju lagi di jalanan yang basah. Menurut perkiraan saya, butuh sekitar 3 jam lebih lagi buat sampai “disana”. Sisa jalan kali ini, terdiri dari jalanan pegunungan yang berhiaskan hutan yang mulai gundul di antara lembah-lembah curam.
Sambil mendengarkan lagu dari mp4, pikiran saya telah melayang jauh "kesana". Ke tempat yang hendak saya datangi. Wajahnya, melintas hilir mudik tak terbantah. Ada perasaan takut dan gugup, bahkan dengan hanya mengkhayalkannya. Jujur, firasat saya gak baik tentang kepergian kali ini, tentang kedatangan saya yang gak diharapkan olehnya, itu pasti. Seperti biasa, cepat-cepat saya tepis pikiran itu.

Mentari mulai mengintip dari ufuk timur. Pohon-pohon pinus yang tumbuh jarang di lembah, bermadikan embun yang setia menemaninya. Barisan awan berwarna cerah cemerlang, membentuk parade keindahan-Nya yang hakiki.
saya hanya bisa menyaksikan itu semua dari balik kaca jendela.

I’m an alien..
I’m an legal alien..
I’m Englishman in New York..

Kesendirian yang coba saya elakkan, mendekap kembali. Mendekap begitu erat, hingga hela nafas saya tak lagi berirama. Kesepian yang selama ini saya benci, mendadak menjadi begitu akrab. Menyudutkan batin ini dalam sebuah eksekusi perasaan. Ingatan tentang “dia”, kembali berkelebatan di tingkat kedua kesadaran saya tanpa pernah ada kesadaran tingkat pertama untuk menyandingkannya. Membekaskan sebuah lubang penuh luka, tanpa pernah ada upaya untuk sembuh dan lepas dari jeratan ini.


saya hanya menjaga.
Menjaga hati, sampai tersingkapnya tirai kebenaran tentang sebuah penantian panjang.
Bukan tentang saya, atau mungkin tentang dia.
Tapi, tentang “kami” dan perasaan itu.



Tiba-tiba, satu bab di buku ‘Cinta Brontosaurus’-nya Raditya Dika, bermain di benak saya----yang mencoba buat tersenyum.





i'm out*

14 komentar:

aDyA mengatakan...

popok.....

postingannya ngena banget...
huhuhu...
aku pun berjuang...

ah,, smoga perjuangan qta ga sia-sia...

pok,,, kapan2 OL bareng yak...
^^

katakdankodokbersaudara mengatakan...

gheee.. tulisannya deep sekali pok.. guah sampe kehanyut.. well, we should write a book together sometimes.. someday, someway.. hehe

tehaha mengatakan...

hmm..
moral of the story nya apa nih papi popok..??
perjuangan mempertahankan long distance relationship..??
kisah cinta di bus bersama seorang homoseksual..:)
eniwei, nice story..!!

cewektulen mengatakan...

menjaga hati?? kayak lagunya yovie n nuno :p

adhini mengatakan...

"Menjaga hati, sampai tersingkapnya tirai kebenaran tentang sebuah penantian panjang."

andaikata kebenaran yang elo cari udah ada didepan mata, udah dibukakan oleh Ilahi gimana?
atau selama ini sebenarnya elo belum tersadar klo perjuangan dan doa lo telah dijawab olehNya?atau malah elo sengaja menutup mata untuk kebenaran ini?

dy...ketika elo udah perjuangin sekeras apapun, dengan segenap kemampuan yg elo punya,,serahkan semuanya padaNya. dan ketika Ilahi sudah membuka jalan untuk elo, knp ga mencoba mengikhlaskan jalan itu? apapun jalan itu pada akhirnya,,terus atau berhenti.

sabar dan ikhlas!
inget tag line AAC,hehe.. ^_^
mintalah yang terbaik untuk kalian berdua, minta yang terbaik sesuai kehendakNya, yang terbaik menurutNya..bukan menurut manusia.
*buka surat Al-Baqarah ayat 216*, temukan kedalaman makna dari ayat itu, insyaallah..ada jawaban disana! =)

btw.dy, gwe kmrn nonton AAC lagi di sensi!huahahahahaaha...gila yak,ga bosen2 gwe nonton nih' film ;P

*deuh..comment gwe panjang bgt sih?*hehe..

nexlaip mengatakan...

bisa dibikin film nyamain AAC nih

sassy mengatakan...

haduh.. jadi mellow lg deh :(
hiks.. hua..

andrei-travellous mengatakan...

Bro! asli tulisan mu bagus bgt ak ketawa2 dan senyum2 trus. Ini postingan terbaikmu Bro!

dan lagi sepertinya kita mempunyai cerita cinta yang sama nih, saya dengan gadis kota hujan pun demikian :p

Bro! lanjut ceritanya ya! sepertinya kita senasib nih ujung2 nya :D

ajenkajenk mengatakan...

*tersenyum sambil tepuk2 pundak tupok*

saluuut bro bwt lo... seenggaknya setelah lo kesana lo sedikit lebih lega saat itu apapun yg lo terima pada akhirnya

err... jadi stibanya lo kesna apa yang terjadi ??

hehehe... soal orangsampingtempatdudukyangtidakkitainginkan juga pernah tuh kejadian ma gw hehe.. baca deh pstingan lama gw di label 'tragedi' judulnya 'bertemu pedophilia'

btw... gw jadi ngebayangin setelah baca tulisan lo ini hohoho... good job ! keep writing !

Eucalyptus mengatakan...

Jadiiiiii? Maksudnya menjaga hubungan jarak jauhnya neh yang dipertahankan? *halah* mulai tulalit gambreng neh gw.... Ngomong2 lagu Sting sepanjang jalan yang diputer cuman Englishman In NY terus ya? Hue he he he....

popokbekas mengatakan...

@ all : makasi udah mo komen yah. moral of the storynya : saya juga bingung. ini cuamn sedikit cerita dari perjalanan saya. cuma itu. mohon maklum yah.

:: ing :: mengatakan...

aduuuhh po..saia bisa ikut ngerasainya..
slamad brjuang untuk ssuatu itu ya pok!!!

theloebizz mengatakan...

hu hu hu hu hu......

paling ga kuat dgn crita macem ini..
terbawa suasana...
semakin merindukannya juga....

senasib dah kitaaaa.... :(

p.s: never stop fighting!!!

ipied mengatakan...

sekarang jadi suka nulis cerita nih????

aku nonton samapai 2 kali, menurutku bagus kok, dari pada nonton film horor indonesia yang gak serem tapi bisa di katakan komedi, atau nonton film cinta yang mirip sinetron di tipi yang termenye-menye....hehehe......

tetep lho ya prioritas utama nonton karena sondtreknya hahahahahaha......