Senin, 28 September 2009

Ber-Twitter dengan Hati

Hai guys, maaf udah lama banget gak update blog ini. Bukannya males, tapi memang saya nggak cukup punya waktu buat update. Gaya sok ngartis, padahal tiap sore cuman gembalain bebek.


Untuk update-an saya ini, mohoin dibaca sampai habis ya guys sebelum menilai. Well, belakangan ini saya memang lebih banyak nulis di twitter. Yang belum tahu apa itu twitter, sebaiknya banyakin deh baca majalah trubus. Iya, di situ memang nggak ada penjelasan apa itu twitter. Tapi mungkin ada penjelasan silsilah keluarga kamu yang masih spesies jamur merang itu. Nah lho, jadi meracau gini.

Eniwei, di twiter sekarang ada sedikit gejolak yang tengah terjadi. Yaitu mengenai masalah fungsi ReTweet atau yang biasa disingkat RT. Sejatinya yang saya bisa simpulkan dari banyak pendapat, RT itu adalah kegiatan me-retweet atau men-tweet kembali tweet-an orang lain agar bisa tampil di timeline atau home para follower kita. Jadi ada baiknya, RT ini hanya digunakan bagi tweet yang memang benar-benar penting dan benar-benar pantas untuk juga bisa dibaca oleh para follower kita.

Yang menjadi masalah adalah, ada pihak-pihak yang menggunakan fungsi sakral RT untuk me-reply atau malah chatting-an di twitter. Dan sebagian orang bereaksi terhadap kegiatan chatting pake RT atau malah pake twitter ini. Mereka beralibi timeline/home mereka jadi penuh dengan segala tweet-tweet yang nggak penting untuk mereka baca. Tapi, banyak juga orang yang beranggapan hal ini mah wajar-wajar aja. Toh, apapun yang orang lakukan di timeline/home kita nggak bayar, nggak bikin hidung kita jerawatan, nggak bikin tetangga kita minjem beras tiap hari, yang pada intinya nggak ngerugiin kita sama sekali. Toh itu twitter-twitter dia, mau dia gimana juga nggak masalah.

Nah, sampai sekarang hal ini terus menjadi perdebatan. Dan sebagai seorang spammer di twitterland itu, saya juga sempat mendapat protes dari pihak yang merasa dirugikan dengan kegiatan RT saya. Katanya apa yang saya RT itu nggak penting, cuma ngotor-ngotorin timelin/home mereka doang. Yah, kalo dipikir-pikir memang bener adanya. Dan memang amat sangat nggak cool kalo saya bilang saya dia ”udah unfollow aja kalo memang keganggu!”. Tapi memang nggak ada cara lain yang cukup masuk akal. Dia tahu saya suka RT, dan dia nggak suka hobbi ekstrem saya itu. Jadi kalo dipaksain juga bakal berantem terus. Jadi daripada ribet-ribet, saya memutuskan buat mengurangi aktivitas RT. Saya cuma men-RT hal-hal yang saya anggap pantas untuk dibaca orang banyak.

Kesininya, saya jadi mengerti kenapa RT itu menjadi polemik. Sesuai dengan fungsi RT yang digunakan untuk tweet yang amemang pantas dan penting untuk dibaca oleh orng banyak. Nah, terkadang orang nggak semuanya bisa memilah mana yang pantas dan penting DAN mana yang tidak pantas dan tidak penting. Mungkin buat sebagian orang CERDAS, hal itu segampang ngupil pake tangan kanan. Tapi buat sebagian orang BEGO kayak saya, kadang susah banget buat bedaiin mana yang pantas dan penting DAN mana yang tidak pantas dan tidak penting.

Jadilah, banyak orang yang men-RT ’hal-hal yang dia anggap penting buat BEBERAPA followernya’, tapi ternyata menjadi nggak penting untuk beberapa orang followernya yang lain. Pada kasus ini, pengertian penting dan tidak penting menjadi ngambang, menjadi nggak begitu berarti lagi.

Kalau memang keadaannya udah begitu, yang kita perlukan hanya HATI untuk melihat, HATI untuk mengerti dan sedikit PENGERTIAN akan penggunaan fitur yang berkaitan dengan orang banyak ini. juga sifat memaafkan buat mereka yang belum mengerti.

Saya mah nggak peduli, orang mau RT, mau RW, mau dagang kasur, mau acara sunatan massal di timeline/home saya. Toh itu nggak bikin saya anyang-anyangan, nggak bikin duit saya di ATM berkurang, nggak bikin saya panuan. Sebaliknya, TEMEN-TEMEN saya malah merasa senang dengan kebebasan yang telah kita semua jaga. Tapi memang nggak semua orang berpikiran sama. Nggak semua.
Dan mereka yang nggak berpikiran sama itu, nggak salah. Malah kita yang membenarkan penyalahgunaan RT ini yang berada di pihak yang salah. Salah dalam peraturan. Tapi mungkin kita menang dalam perbuatan.


Oh iya, pengertian RT yang saya simpulkan ini bukanlah hasil dari ngeubrak-ngabrik dari web twitternya langsung. Asalannya simple, saya nggak jago bahasa Inggris :D

Jadi guys, bertwitter itu nggak cukup dengan menjadi cerdas. Tapi pake hati. Bertwitter dengan hati, memang kayak judul lagu dangdut, tapi kebayang indahnya bukan?

I’m out*