Jumat, 04 Desember 2009

Impossible is Nothing






Entah kenapa, malam ini saya pengen memuat salah satu bagian cerita yang ada di dalam buku laknat yang saya tulis. Ada semacam perasaan yang memaksa saya untuk melakukannya. Secara otomatis, tangan saya bergerak memilih cerita secara acak pada chapter sembarang dan scene yang juga sembarang. Untuk akhirnya bisa saya post. Dan secara ajaib terpilihlah cerita ini. Lalu saya mengedit seperlunya, dan langsung mengentrinya.




Oke, saya peringatkan, posting kali ini rada panjang. Selamat membaca, guys!!! :)


* * *



Jauh sebelum aku mengenal Play Station, aku lebih dulu bertekad untuk bisa belajar menaiki sepeda. Jangan tanya kenapa? Bukan karena diam-diam aku berniat menjadi seorang tukang batagor keliling. Bukan.
“Bang Udin…” sore itu, aku mendatangi rumah Sang Mentor yang mengajariku naik sepeda. Sesampai di depan pintu rumahnya, aku lalu mengetuk pintu. 

Tok-tok-tok. 
“Bang Udin....” kataku setengah berteriak. Aku mengulanginya beberapa kali.
Klek. 
Pintu terbuka.
Tampak seorang pria paruh baya yang mengenakan peci, sarung lusuh serta baju koko warna cream yang terlihat usang berdiri di depan pintu. Detik pertama, beliau langsung tersenyum. 
“Eh, Wandy. Bang Udin masih di ladang, nak. Tunggu sebentar di dalam ya. Ayo Wandy masuk dulu.” kata beliau padaku dengan ramah, seperti biasanya.
“Iya, Tuk.” aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah. “Assalammualaikum.”
“Wa alaikum salam.”
Lelaki tua itu adalah kakek angkatku. Beliau biasa aku panggil Atuk (kakek). Ia adalah seorang ustadz di salah satu mesjid di lingkungan rumahku. Perawakannya begitu mungil, menjadi tambah mungil di masa tuanya ini. Rambutnya pun telah mulai memutih, termakan umur. Gurat-gurat pada wajahnya sangat terlihat jelas, sebagai salah satu tanda ia tak muda lagi.
Sampai di dalam rumah, aku duduk bersimpuh di tikar yang terbentang di tengah-tengah ruangan. Atuk terlihat masuk ke dalam kamar. Tidak lama kemudian tampak seorang wanita paruh baya memasukki rumah panggung itu.
“Assalammualaikum.”
“Wa alaikumsalam.” Kataku sembari tersenyum.
“Eh, ada Wandy.”
“Iya, Ndung.” Kataku pada wanita itu yang tidak lain adalah istri dari Atuk. Wanita ini biasa aku panggil Andung, yang berarti nenek.
“Udah makan, Wandy?” Andung mengusap kepalaku pelan.
“Belom Ndung.” Kataku polos. Memang kalo hari sudah beranjak siang, aku jarang sekali untuk ingat makan.
“Yuk, makan yuk.” Ajak Andung tulus.
Aku manggut-manggut.
Andung lalu menarik tanganku untuk mengikutinya ke belakang, ke arah dapur.
Sambil mendekap tangan di dada, aku memperhatikan Andung yang tengah mengambil beberapa centong (sendok) nasi dan meletakkannya ke sebuah piring beling. Dia lalu menyiramkan semacam minyak dari atas penggorengan ke atas nasi hangat itu.
“Ini ada minyak jelanta. Makan pake ini aja ya? Andung belum sempat masak.” kata beliau.
Sedikit orang yang tahu, bahwa minyak jelanta itu adalah minyak goreng bekas, yang biasanya bekas menggoreng ikan, tempe atau makanan sejenisnya. Rasanya cenderung asin, namun gurih. Lebih yummy  lagi kalau dicampur dengan nasi hangat.
Mendengar penawaran itu, aku menganguk mantap. Selanjutnya, aku dan Andung duduk di lantai papan yang dilapisi tikar yang terdapat banyak bolong di beberapa bagiannya. Tapi, kami mencoba untuk tidak peduli dengan keadaan itu. 
Dengan sabar beliau menyuapkan nasi campur minyak goreng bekas itu perlahan. Meskipun hanya nasi campur minyak goreng bekas, namun bisa membiaskan kenangan yang hingga kini kerap begitu aku syukuri. Dan acara makan siang itu, berlangsung dalam diam. Mungkin hanya senyum di kedua bibir kami, yang menandakan aku dan Andung saling berkomunikasi. Saling mengerti. Lewat hati.
Tiba-tiba ada suara dari rah pintu belakang, “Eh, udah dateng si bos kecil.”
Aku mengenali suara itu. Dan untuk anda yang berpikir itu suara gaib dan saya akan mengompol di celana, bukan, itu bukan suara semacam itu :)
Seorang pemuda yang waktu itu masih berumur belasan tahun masuk ke dapur dan memecah keheningan yang tercipta. Pemuda itu biasa aku panggil Bang Udin. Dia adalah anak dari pasangan Atuk dan Andung. Perawakannya sama seperti ayahnya, cenderung mungil. Dia juga memilikki senyum yang tidak gampang lekang. Dalam tubuh mungilnya, dia simpan rapi berjuta harapan tentang masa depan yang diingininya. Aku tahu pasti tentang  itu.
“Iya bang. Ayo yuk bang latihan sepedanya.” Aku hampir terlonjak kegirangan melihat kedatanganya.
“Husss.. tunggu, abisin makanannya dulu lah nasinya. Mubazir ini. Nanti nasinya nangis kalo enggak dihabiskan.” Kata Andung.
“Oh, oke bos.” Aku tersenyum. Andung lalu ikut tersenyum.


            Selesai makan, aku dan Bang Udin bergegas sambil membawa sepedaku ke sebuah jalan kosong menuju mesjid. Tempat dimana aku sering berlatih naik sepedanya.
“1, 2, 3. dayung cepet Ndy!!” suara Bang Udin menggema di sepanjang jalan tanah berdebu yang mulus itu.
“Iya bang.. iya..” aku kepayahan mengatur laju sepeda.
Bruk.
Aku terjatuh untuk kesekian kalinya. Jatuh terhempas dari atas sepeda mini hadiah ulang tahun dari papa dan ibu itu. Iya, itu sepeda pertamaku.
“Ayo, ayo bangun.” Bang Udin mengangkat badanku yang nyaris tertimpah sepeda dengan indahnya. Dengkulku terasa perih, ada beberapa lecet menganga disana. Namun debu dari tanah telah menutupnya rapat dari pandangan. Meski sakitnya tetap terasa.
Tapi aku enggak peduli. Aku enggak peduli mau luka kayak apapun juga. Yang penting aku bisa naik sepeda. Aku harus bisa. Aku enggak mau ngerepotin orang lagi buat mengantarku ke sekolah tiap pagi hari dan pergi mengaji di sore harinya. Pokoknya, aku harus bisa naik sepeda. Harus.
Dengan semangat aku menuntun lagi dan lagi sepeda mini itu ke ujung jalan dengan dibantu oleh Bang Udin. Dia masih sabar melatih dan menyemangatiku.
“Oke? Siap?” Bang Udin bersiap-seiap mendorong.
“Siap!” Jawabku mantap. Aku mulai berkonsentrasi, dan berdoa dalam hati.
“1, 2, 3. hup…” katanya mulai mendorong. “Dayung Ndy, dayung cepet…”
Tanpa menjawab, aku mendayung sepeda mini itu dengan berjuta harapan, dengan satu tekad di dada. AKU HARUS BISA NAIK SEPEDA. 
Dan akhirnya untuk pertama kali, sepeda yang aku tumpangi bisa meluncur normal dengan dayungan patah-patah hingga ke ujung jalan yang satu lagi. Bahkan dengan mudah dan tanpa harus jatuh lagi, aku bisa kembali ke start semula. Senyum gembira khas anak kurang gizi, mulai mewarnai wajahku yang hampir sepertiga bagiannya tertutup debu itu.
“WANDY BISA NAIK SEPDAAAAA!!!” Aku berteriak penuh hasrat. 
Setelah meletakan sepeda dengan tidak sabar, aku segera meloncat bermaksud menghampiri Bang Udin. Sang Mentor super sabar. 
“Wandy bisa bang… WANDY BISAAA BANG… HOREEEEEE!” aku berteriak pada Bang Udin yang sedang berteduh di bawah pohon mangga.
Dia tersenyum puas. 
Dia tersenyum dengan senyuman yang sama dengan senyuman yang selalu menemani sore-soreku lebih dari seminggu belakangan ini. Berkatnya, aku bisa naik sepeda. 
Jelas, ini sebuah anugerah. Di mulai dari langkah kecil ini, sekarang akan aku tantang seluruh dunia. Aku tahu, aku pasti bisa melakukan apa saja. Walau tak mudah. 
Satu hal yang harus terus aku ingat, semua hal di dunia ini berawal dari ketidak-bisaan. Dari tidak ada, menjadi ada. Dari tidak bisa, menjadi bisa. Dari yang tidak mungkin, menjadi mungkin. Hingga pada akhirnya, Impossible is Nothing.


* * *



Yep, maaf kalo ceritanya rada panjang. Buat yang pernah baca buku saya, pasti ngerasa kalo cerita ini beda dengan aslinya. Iya, saya mengeditnya. Dan untuk beberapa tujuan, saya menambahkan beberapa kalimatnya. Sekedar untuk memudahkan penggambaran situasinya.


Terima kasih untuk yang udah mau baca. Seperti di awal tadi saya bilang, saya nggak pernah tahu kenapa hati saya tergerak untuk memuat cerita ini. Dan untuk diri saya pribadi ternyata ini menjadi jawaban dari gundah yang tengah saya dapat.


Saya berharap, mudah-mudahan cerita-sekelas-karangan-anak-SD ini, bisa memberikan secuil makna bagi yang membaca. Dan maafkan bila post saya kali ini terkesan menggurui. Bukan, bukan itu maksudnya. Saya hanya ingin berbagi. Dan mudah-mudahan ini berguna.


Amin.




me out, guys.

24 komentar:

Gerimis Pagi mengatakan...

Pertamaxxx

Gerimis Pagi mengatakan...

Insya Allah, keduaaaxxx. Maaf wan, nyepam dulu :p tapi nanti komen bermutu kok. Tenang aja :)

Gerimis Pagi mengatakan...

Mungkin ketigaaxx

Gerimis Pagi mengatakan...

Inspiratif!

Gerimis Pagi mengatakan...

Kelimaaxx adalah milikku #melonjak-kegirangan

wandy.popok mengatakan...

Daya : hehehe. udah lima biji aja. terima kasih day :)

Anonim mengatakan...

Oke, yg ke 1 trims ud diikutin baca.
Yang ke 2 dan slnjutnya, aq iriiii dan sediih, aq g bisa naek spedaaa @_@ T.T"
Tulisannya bikin kaget, soal si minyak jelantah. T.T aq br tau ada yg memakannya (bkn mghina). Mgkin sprti kbiasaan ditmpatku, mkn buah like pisang pepaya dan mangga masak sbgai lauk nasi.
Tp kl minyak jelantah.. Huhuu maap gan, itu br kudengar :cendol:
Skrg msh srng mkn? Jgn ya..hihihii itu lemak jenuhnya tinggi. Hihiihii (insting dokternya sok jalan)
Btw ni posting yg bgus.
Maap komennya kepanjangan :p
(Diasty fera imut)

wandy.popok mengatakan...

Diasty : hehe. Ngerti kok buk. Memang tradisi disini kayaknya. Aku mah dikasi, ya dimakan aja. Malah msh ada temenku yg sampe udah gede makan minyak jelanta trus :p
Thx udah komen ya buk..
:D

Andie Gokil mengatakan...

hemmm... pemanasan dulu pok. #ahem

Andie Gokil mengatakan...

bener banget pok. imposible is nothing = anything is possible = blog ku. terimakasih sudah mempromosikanku pok. *terharu* #digampar

Andie Gokil mengatakan...

semua yg tidak ada menjadi ada dan akan kembali menjadi tidak ada. Tuhan kita akan merubah nasip kita jika kita berusaha. mantap pok.

Andie Gokil mengatakan...

sampe skrg ak belum beli bukumu karna uang BP3 yg ak tilap. aku hina. *nangis*

Andie Gokil mengatakan...

udah brp koment nih pok?

Andie Gokil mengatakan...

aku ga mau posting di komentmu nak. #nangis

Andie Gokil mengatakan...

KELIMAKS BELAX

wandy.popok mengatakan...

Hahaha.
Pantes udah rame, taunya nih anak udah dateng.

wandy.popok mengatakan...

Ndie, mandilah kau nak.
Bukankah kau harus sekolah anakmuda..

3+4 mengatakan...

Seperti janjiku di atas, aku kembali lagi…yeah!

Harapan, cita-cita, mimpi, rencana, tak akan pernah bisa terwujud tanpa semangat, kerja keras, fokus, dan do’a. Tak ada sesuatu yang tak mungkin, tak ada yang berat jika kita punya tekad yang kuat untuk mewujudkannya. Seperti halnya ucapan Arai kepada Ikal dalam novel “Sang Pemimpi”, “Biar kau tahu Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati! Kita tidak akan pernah mendahului nasib! Mendahului nasib!”. Begitulah mungkin kehidupan harus dijalani. Kita manusia, adalah makhluk yang diberi energi oleh Tuhan untuk senantiasa berpikir, berproses, “menjadi”, dan mewujudkan cita-cita.

Di bukumu pun aku suka dengan cerita yang ini, (meskipun agak diubah)… kelihatan sangat natural dan inspiratif. Ditunggu nih, buku keduanya! GBU!

sugahpuff mengatakan...

banyak kisah2 impossible is nothing. dan kisah ini, salah satunya. inspiratif pok.. :D

btw, skinnya ganti ya ? mata saya jadi nyaman menjelajah.. hehehe

ataaaaa mengatakan...

hihiiii iiaaa semua ada jalan kaan :D

Nisan Kubur mengatakan...

posting yg bagus, pok. orang-orang yg cukup pesimis (ato sok realistis) dan "menerima hidup apa adanya" musti sering2 baca kisah semacem ini. gw salah satunya yg pasti, hoho.

wandy.popok mengatakan...

Poe : wah, terima kasih ses. iya nih udah ganti skin. pengen ganti lagi, mau gantiin? :p

Ata : iya, pastinya dong..

Bg Mol : hihi, syukur dah bang. seneng rasanya cerita ini menyadarkan dirimu bang :p

mira mengatakan...

ih kayak nama blognya @andiegokil. xixi.. >,<
selamat ya mas udah bisa naik sepeda. #halah

wandy.popok mengatakan...

@mira
hihi, iya. aku baru sadar setelah si andi sendiri yang bilang mirip sama blognya dia..

:p