Kamis, 14 Oktober 2010

Sebuah Surat





Hai Sayang..

Apa kabar? Aku rindu kamu.
Dan rindumu yang dulu, belum kukembalikan. Jujur, itu memang aku sengaja simpan. Entah sampai kapan, sampai aku mati, hidup lagi, mati lagi, hidup lagi, dan begitu seterusnya. Aku selalu suka rasa sesak di dada, ketika rindu itu mulai bekerja.
Jika tiba waktunya bereaksi, rindu tentangmu menjelma menjadi gumpalan udara mematikan yang menyumbat aliran nafas. Menyakitkan, menyesakkan, tapi aku suka. Buatku, mati ketika menahan rindu adalah kematian yang indah. Tak jauh beda dengan kematian ketika menukar nyawa demi dia yang kita kasihi. Ah, dua-duanya selalu ingin kulakukan untukmu. Seperti kebersediaanku melakukan itu demi ibuku. Sayangnya, kesempatan sekali seumur hidup itu kusia-siakan dengan cara yang salah.

Ini baru semenit yang lalu aku bicarakan, dan sekarang rindu tentangmu mulai mengganda. Mereka bertingkah seperti amoeba. Rindu ini membelah diri, dan seakan-akan mulai menggerogoti beberapa rusukku lagi. Berkat rindu ini, mungkin kamu menjadi satu-satunya wanita yang mengambil lebih dari satu rusuk pria, sebagaimana yang dicontohkan Hawa terhadap Adam.
Kadang aku membayangkan, kita dilahirkan sebagai sepasang kembar siam. Yang menempel di dada. Kita hanya memilikki satu hati. Dan mungkin atas kebesaran Tuhan, dokter-dokter itu berhasil memisahkan kita seperti segalanya biasa saja. Tapi aku yakin, tanpa mereka tahu, hati kita berdenyut dengan ritme yang sama, dan menetralisir racun dengan kekuatan yang tak beda.

Aku selalu senang, jika memilikki kesamaan denganmu. Kenyataan-kenyataan seperti itu membuatku tambah giat mengoleksi segala perasaan yang kamu hasilkan. Entah itu rindu, cinta, sayang, bahkan luka.

Ah, bicara tentang luka. Mungkin itu lah jenis perasaan yang sering kamu hadiahkan ketika kita bersinggungan. Perih, pedih, sakit, semua terasa seperti menu harian. Rasa perih ketika mendapati kamu yang mendamba pria lain, sama banyaknya dengan sakit ketika aku tahu kamu meninggalkanku demi dia, pria yang kamu anggap lebih baik.
Air mata? Entahlah. Aku lupa bagaimana rasanya, ketika cairan itu mengair melewati pori-pori wajah. Seingatku, dulu air mata terasa hangat. Iya kan, sayang? Aku lupa. Aku sudah cukup lama tak menangis. Bukan karena aku jarang bersedih. Lebih tepatnya, kesedihan yang kurasa tiap kali kamu sakiti, melampui fase tangis biasa. Entahlah, aku juga tidak begitu mengerti apa istilahnya. Bahkan membayangkannyapun aku ketakutan. Sudahlah, abaikan sebelum aku mengompol disini.

Sejak kamu pergi, aku selalu mencoba mencari cara membuat rindu tentangmu dengan tanganku sendiri. Berhasil, walau tidak sesempurna yang biasa kamu hadiahkan, rinduku ini penuh kecacatan. Maklum saja, kepingan ingatan tentang kita dulu banyak yang sengaja aku rusak. Sebentar setelah kamu pergi, aku bertingkah seperti orang gila kebanyakan. Menghantamkan kepala ke dinding, memukul teralis besi dengan tangan telanjang, yang biasanya diakhiri dengan balutan perban seadanya, atau malah kubiarkan terbuka.

Pasti kamu mulai bertanya, kenapa tiba-tiba malam ini aku bercerita tentang rindu. Jawabnya sederhana, setelah beberapa lama rasa itu aku endapkan, akhirnya rindu itu datang kembali. Malam ini.

Iya, aku rindu kamu. Rindu aroma hangat tubuhmu sehabis mandi. Rindu akan sakit yang sengaja kamu torehkan di dada. Rindu akan kecupan tiga kali di dahi, pipi dan masing-masing bibir kita. Diakhir dengan pelukan tiga puluh detik yang erat. Aku rindu kamu. Apapun yang telah terjadi. Seberapa sakitpun yang masing-masing kita rasakan. Mudah-mudahan kamu juga merasakan hal yang sama. Jika tidak, kumohon berpura-puralah, sayang. Buat aku tersenyum di dalam sini. Di himpitan bumi yang selalu kamu injak. Bumi yang sering dijatuhi ludah dengan sembarang oleh suamimu.

Ya sudah, tak sepantasnya aku membuat surat terlalu panjang. Aku masih ingin menghemat rindu. Untuk kunikmati sampai kiamat tiba. Terima kasih atas doa-doamu yang sepertinya telah alfa setahun lebih lamanya. Iya, sejak kunjungan terakhirmu dulu itu. Dan terima kasih, jika di kunjungan berikutnya, kamu membawa bunga lili segar untuk memperindah istana kecilku ini.
Wah, aku sudah dipanggil Romi. Dia tetanggaku, dan malam ini adalah ulang tahun hari kematiannya. Aku menjadi salah satu panitia acara, dan tampaknya aku harus bergegas sekarang. Baik-baik ya sayang. Maaf untuk spasi yang begitu besar ini. Aku sayang kamu. Selamanya, sampai Tuhan bosan membunuhku melalui cinta yang kuserahkan padamu.




Dariku.
Almarhum penikmat rindumu.

Selasa, 05 Oktober 2010

Sebuah Cerita Pendek : Mati Sekali Lagi

“Sayang, aku lagi sedih. Sekaligus senang.” Kamu duduk di sebelahku. Wangi parfum itu seakan menarik kembali semua perasaan yang kuhimpun dari waktu ke waktu. Denganmu. Wanita yang kusayang.
“Sedih kenapa? Senang kenapa? Cerita sama aku ya?” Aku tersenyum. Mencoba membelai rambut indahmu.
“Aku tidak tahu harus mulai darimana, sayang.” Jawabmu pelan. Menahan isak.
“Kan selalu aku bilang. Setiap kali kamu bingung harus bicara darimana, mulailah dari apa yang kamu rasakan. Yang hati kamu rasakan detik ini.” Kuraih tanganmu, kuletakkan ke pangkuan. Berusaha membuat kamu senyaman mungkin bercerita.
“Iya, aku ingat. Kamu selalu bilang, mulai dari apa yang hatiku rasakan. Iya kan?” Kamu mengangkat wajah, dan memandang menyeberangi jendela. Menatap langit malam yang tak berbintang. Mungkin mereka malu, binarnya kalah oleh sinar matamu.
“Nah, gitu dong.” Aku mengangguk senang.
“Berita baiknya dulu ya? Bulan depan, aku akan menikah. Bisa kamu bayangkan sesenang apa aku saat ini?” Matamu berbinar. “Aku bahagia, sayang.”
Aku membisu.
Sekarang giliranku yang tidak tahu harus berkata apa.


“Doa kamu terkabul. Semua yang selama ini kamu perjuangkan, akhirnya terwujud, sayang.” Tetesan air mata bahagia, atau terpaksa, mengair cepat melewati wajah halusmu.
“Iya, sayang. Demi Tuhan, aku lega. Aku senang. Akhirnya bisa melihat kamu, wanita yang paling kusayang, bahagia. Menikah dengan orang yang tepat. Sahabatku sendiri.” Tanpa sadar, aku pun menangis. Entah ini terharu, atau malah rasa kehilangan. Aku tidak tahu. Tidak mau tahu mungkin lebih tepatnya.
“Aku yakin, sekarang kamu sudah lega. Kan kamu sendiri yang bilang, satu-satunya jalan untuk membuat kamu bahagia dan tenang, adalah dengan melihat aku bahagia. Iya kan, sayang?” Air mata di wajahmu tak terhitung lagi jumlahnya. Bibirmu juga tak hentinya mempertahankan senyum. Dan aku tahu, senyum itu terpaksa.
“Pasti. Sekarang aku udah tenang, sayang.” Jawabku di sela-sela nafas yang memburu. “Tidak ada, satu hal pun yang lebih kuinginkan di dunia ini, selain melihatmu bahagia. Aku ikhlas, sayang.”
“Aku yakin, kamu pasti mengatakan itu. Aku tahu, pasti kamu berkata, kamu ikhlas. Aku sudah hafal. Entah terbuat dari apa hatimu yang mulia itu.” Senyuman di bibirmu perlahan menguncup. Air mata, semakin deras mengucur.
“Jangan menangis. Jangan biarkan wajah cantikmu, tertutup kepedihan.” Aku mengusap pipimu perlahan. Lembut sekali rasanya.
Dengan sejuta upaya, kamu berusaha menghenti tangis. Membentuk lekung senyum sekali lagi. Aku tahu, hatimu sedih.
“Kamu juga harus bisa ikhlas, sayang. Katanya, kamu juga mau lihat aku bahagia?” Aku lantas menunduk di depanmu. Memangku tangan pada pangkuanmu yang hangat.
Kamu terdiam. Hanya sengguk-sengguk kecil yang keluar teratur darimu. Sungguh, pedih hati ini menyaksikan semuanya. Tapi tak kukatakan. Hati ini juga menjadi berantakan sebenarnya mendengar berita baik yang kamu utarakan.
“Matahariku, sayang.” Aku mengelus lagi dahimu.
Kamu mendongak pelan, namun tak menjawab apa-apa. Pandanganmu kosong.
“Jangan bersedih. Aku ikhlas. Aku bahagia. Aku sungguh bahagia. Jangan menangis lagi.” Kataku sambil tersenyum. Berusaha terlihat sealami mungkin.
“Kamu ingat. Tiga tahun yang lalu. Di tempat ini.” Kamu kembali menerawang langit malam melalui jendela. Mata indah itu, berbinar kembali.
Aku kehabisan kosa kata.


“Tiga tahun yang lalu, kita berdua berbaring disini. Berpegangan tangan. Dan mengucapkan sumpah. Setia, sampai maut memisahkan kita.” Satu demi satu air sebening berlian, mengalir kembali dari sepasang matamu. Menghapus jejak-jejak maskara yang selalu kamu kenakan.
Aku sibuk bernafas. Tak sempat menjawab.
“Lalu aku bercerita tentang mimpiku. Mimpi untuk tunangan, menikah, memilikki anak darimu, dan menamai mereka dengan nama belakangmu. Hingga cucu kita lahir, dan bangun tidur pada usia enam puluh tahun sambil berpegangan tangan.” Tangismu memecah. Terlihat begitu pedih.
Aku juga. Aku menangis. Dan ingatan itu berjalan kembali. Seperti masih beberapa hari kita lewati.
“Maafkan aku, sayang. Jujur, aku tak sanggup.”
“Kamu tidak salah. Tidak ada yang salah. Kalaupun harus ada, di sanalah aku berdiri, menjadi terdakwa.” Sesenggukan, aku mengucap.
“Aku salah. Bukannya aku sengaja melanggar sumpah.” Tangismu mencapai klimaksnya. Tak ada air mata, yang ada hanya rasa sakit yang tertahan di dada.
“Tidak, tidak. Kamu tidak salah. Bukan kamu yang melanggar janji. Itu aku. Aku, sayang. Aku yang salaaaaaaaah…” Aku terkulai lemas di lantai. Air mata membanjir. Pandanganku mengabur, dan gravitasi bumi terasa sepuluh kali lipat lebih kuat. Sesak.
Hening.
Kita sibuk dengan pikiran masing-masing, dan membiarkan lantai menjadi basah oleh air mata.
“Kamu tahu, apa yang paling buruk? Itu tadi berita baik, dan terasa menyakitkan. Sekarang, aku harus mengatakan berita buruknya. Buruk, walau hanya untukku.” Kamu berdiri lalu berjalan sempoyongan ke arah jendela. Tempat dimana dulu kita sering berpelukan.
“Apa itu?” Tanyaku. Sembari menghampirimu. Aku memelukmu dari belakang.
“Ah, aku tahu. Sekarang kamu sedang memelukku. Seperti biasa. Iya kan, sayang?” Aku tahu kamu tersenyum ketika mengucap ini.
“Iya, sayang.”
Kamu menghela nafas. Panjang. Sepanjang penderitaan hati yang kamu rasakan selama ini.
“Hal yang paling menyedihkan bagiku bukan ketika aku sedih dan harus sendiri.” Kamu kembali menghela nafas. Kurasakan dadamu bedegup begitu kencang. Lehermu menegang, tanda jika kamu tengah menahan isak. Aku hafal kalimat ini akan berakhir kemana. Sudah ribuan kali kamu ucapkan.
“Hal yang paling menyedihkan adalah ketika aku bahagia, dan tidak ada kamu untuk kuajak tersenyum bersama…” Katamu, juga kataku. Bersamaan.
“Kamu salah, sayang. Lihat, aku ada disini.” Kataku tersenyum.
“Kenapa?! Kenapa kamu tidak menuruti saja kataku? Hingga anakku bisa memilikki namamu di belakang nama mereka!” Kamu membentak.
“Tapi.. ak..”
“KENAPA!! KENAPA KAMU MENINGGALKANKU SENDIRIAN?!” Air matamu kembali membasahi lantai.
“Aku.. Ak..” Suaraku dilenyap ketakutan.
Kamu meraung pelan. Begitu pedih pemandangan itu. Aku kehabisan nafas.
Lama, kita hanya berdiam, menangis.


“Sayang..” Kamu mengeluarkan sebuah foto dari dalam kantung jeans belel kesayanganmu itu. Fotoku. Dua tahun lalu. Waktu itu kamu merengek-rengek mengambil fotoku yang baru selesai interview kerja yang pertama. Ah, momen itu..
“Aku kangen kamu.” Katamu pelan, sambil menciumi lembut foto itu.
DEG!
“Aku merindukanmu.” Foto itu basah oleh air mata. Air matamu. Dan nafasku tercekat. Meski kedua tangan ini tak lepas memelukmu.

BRAK!
Pintu kamarku terbuka. Dari suaranya, aku tahu pintu itu dibuka dengan rasa gelisah yang memuncak. Aku juga bisa menebak, selanjutnya wajah siapa yang hadir dari balik sana.
“Mikaela! Sayang.” Benar dugaanku. Itu kau, Lintang. Sahabat terbaikku.
Sedetik kemudian kalian berpelukan. Hanya berjarak satu meter dari tempatku berdiri. Tempatku mengiris hati.
“Sudahlah. Dia sudah pergi, sayang.” Lintang membelai rambutmu halus. Seperti yang sering kulakukan dulu.
“Aku rindu dia, maaf.”
Lintang terdiam.
“Kamu! Kenapa kamu mengatakan hal yang membuat hati Lintang sakit?” Kataku memprotes sikapmu.
“Iya, sabar ya. Aku yakin, dia juga merasakan hal yang sama. Aku juga merindukannya. Dia saudaraku. Sahabat terbaikku. Aku mengerti.” Mata Lintang berkaca-kaca. Sabar.
Tanpa perintah, kedua tangan ini memeluk kalian bersamaan. Memeluk erat, seakan-akan tidak ada lagi hari esok. Aku menangis. Memprotes Tuhan atas jalan cerita pahit ini.
“Kamu merasakannya?” Lintang berkata padamu.
“Iya, aku merasakannya. Hangat peluknya tak akan kulupa.” Kamu tersenyum.
Aku mematung. “Aku sayang kalian. Maaf, aku mendahului kalian semua.” Air mata kembali jatuh. Bukan lewat mata. Lebih jauh, lebih dalam dari itu, di dasar hati.
Dengan badan gemetar dahsyat, aku melepas pelukan itu. Di langit-langit kamar, cahaya putih itu memanggil, aku harus kesana.
“Lintang! Kutitipkan hatiku padamu, kawan! Bahagiakan dia, atau kau akan kuhajar di kehidupan selanjutnya!” kataku berteriak. Lintang mengangguk.
“Kau, Lintang. Apa kau bisa membaca pikiranku? Hingga kau mengangguk begitu?” bisikku haru.


“Mikaela, sayang. Kamu harus percaya, tidak ada satu orangpun yang aku kasihi melibihi dirimu. Bahagialah. Rayakan kehidupanmu. Aku ikhlas sekarang. Aku bahagia, sayang!” kalimat itu kuakhiri dengan sebuah kecupan. Tepat di dahimu yang lembut. Harum sekali rasanya.
“Aku pamit, aku pergi. Sebisa mungkin di hari resepsi, aku minta ijin pada langit untuk hadir.” Aku bercanda. Meskipun dapat ijin, aku tidak mampu mengijinkan hati ini terluka lebih parah lagi.
“Sampai jumpa, orang-orang yang kusayang. Aku pergi. Kita bertemu di kehidupan selanjutnya.”
Dan aku pun pergi. Tertelan cahaya. Mati untuk kedua kali. Dengan senyum mengembang kali ini.

Jumat, 23 Juli 2010

Mau jadi Presiden?




Waktu kecil kita pasti sering ditanya soal cita-cita. Kebanyakan sih pengen jadi dokter, guru, atau mungkin pilot. Ada pula yang bercita-cita jadi polisi, tentara atau mungkin pembalap. Tapi buat beberapa orang, cita-cita yang paling tidak mungkin adalah menjadi Presiden atau Kepala Sebuah Negara.
           Kenapa sih menjadi seorang Presiden itu kerap dinilai banyak orang sebagai cita-cita yang ketinggian? Atau malah banyak yang menyebut itu hanya sebatas angan-angan atau mimpi kosong di siang bolong.
           Tapi jangan salah, bercita-cita menjadi serang presiden bukanlah hal yang tidak mungkin. Coba tanyakan hal ini pada mantan presiden ke-42 Amerika Serikat, Bill Clinton. Sejak duduk di sekolah menengah, Beliau sudah bertekad menjadi seorang presiden lho setelah bertemu John Kennedy yang menjabat sebagai presiden Amerika saat itu. Hal itu begitu memotivasinya hingga dia berhasil mewujudkan cita-citanya. 
           Well, modal apa saja sih yang harus dimilikki oleh seorang presiden? Jika kita melihat sekilas dari sosok para presiden dari seluruh negara di dunia, satu hal yang pasti, seorang presiden itu harus bisa menjadi panutan bagi setiap warganya—baik yang ikut memilihnya ataupun tidak. Selain itu, presiden juga dituntut untuk tanggap dengan apa saja yang diinginkan rakyatnya. 
          Nah, sebelum kamu beneran jadi Presiden Republik Indonesia, ada baiknya kamu menyimak beberapa hal yang mungkin akan kamu hadapi dalam mengemban tugas dan harapan seluruh rakyat Indonesia.Check this out, guys.. 
 

1.     Pariwisata

          Kita semua sudah sama-sama tahu kan, bagaimana terkenalnya Bali di dunia? Bahkan beberapa film bikinan Hollywood juga sempat mengambil lokasi syuting di pulau surga itu. Keindahan pantainya nggak bisa dipungkiri lagi, juga perpaduan nuansa alam pedesaan yang sudah dikelolah dengan baik.
           Tapi, pariwisata Indonesia bukan hanya tentang Bali. Masih ada Bunaken, Lombok, atau Pulau Komodo. Bahkan Pula Komodo belakangan dicalonkan sebagai 7 keajaiban dunia yang baru.
           Sayangnya, promosi yang dilakukan oleh pemerintah masih kurang gencar, masih sedikit tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapore atau Thailand dalam hal promosi pariwisata. Iklan-iklan promosi pariwisata mereka sudah sering wara-wiri di TV nasional kita, bahkan lebih sering daripada iklan wisata pemerintah kita sendiri. Malu dong, kalau ada bule yang tahu Bali, tapi enggak tahu Indonesia. 

2.     Pendidikan

           Wajib sekolah sembilan tahun. Hal ini lah yang kerap disuarakan oleh pemerintah bagi rakyat Indonesia lebih dari satu dasawarsa ini. Dana yang digelontorkan untuk sektor ini juga tidak sedikit dan jumlahnya terus bertambah setiap tahunnya.
           Tapi dengan dana bertriliyun-triliyun itu, masyarakat di pelosok-pelosok nusantara seperti di Papua, masih belum tersentuh pedidikan yang layak. Mulai dari gedung sekolah yang dibangun apa adanya tanpa dinding, sampai dengan masalah minimnya tenaga guru yang juga digaji dengan sangat minim.
          Selain itu, di kota-kota besar juga masih banyak ditemukan anak-anak putus sekolah karena kesulitan biaya. Meskipun biaya sekolah sudah digratiskan, tapi tak jarang ada pihak sekolah yang putar otak mengambil keuntungan dari uang buku, LKS atau sumbangan-sumbangan hantu lainnya. 

3.     Pengangguran

           Jumlah pengagguran semakin bertambah setiap tahunnya, dan lebih dari sepertiganya adalah pengagguran sarjana.
           Pemerintah telah berupaya mengatasi hal ini dengan segala cara, termasuk dengan penyediaan modal bagi mereka yang ingin memulai berwiraswasta. Namun, seperti segala macam birokrasi yang ada di Indonesia, hal ini masih sulit dalam prakteknya. Sehingga buat anak-anak muda yang pengen jadi entrepreneur, kebanyakan dari kita sudah takut atau malah males duluan membayangkan ribetnya birokrasi yang ada. 

4.     Sepakbola

          Di banyak negara di dunia, sepakbola kerap dianggap sebagai agama kedua. Begitu pula di Indonesia. Keinginan rakyat Indonesia untuk menyaksikan timnas-nya berlaga di piala dunia telah menyentuh klimaksnya. Namun hal itu urung terjadi akibat mandeg-nya prestasi timnas kita. Pembinaan dan sistem liga yang kurang profesional dituding sebagai biang kerok dari pusaran masalah ini.
          Selain itu, ulah para suporter garis keras, seperti yang kerap ditunjukan oleh Bonek (sebutan suporter setia Persebaya) juga butuh perhatian khusus. Kampanye perdamaian antar suporter dalam nafas sepakbola harus gencar digalakkan. Demi terciptanya suasana sepakbola nasional yang kondusif dan penuh cinta damai. 
 

          Keempat hal di atas belum bisa dijadikan patokan jika kamu mau terjun ke dunia politik praktis dan mencalonkan jadi seorang presiden. Tapi mungkin cukuplah untuk bisa meraih hati rakyat.
          Masih banyak lagi hal yang harus dibenahi, dan diperbaiki. Apalagi mengingat negara kita masih tengah berlari mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju lainnya. 
          Jadi, untuk menjadi seorang presiden enggak melulu harus bergelar minimal doktor atau punya IQ jenius kan? Hal-hal yang berkaitan dengan sikap kepemimpinan lebih dipentingkan, dan itu bukanlah keahlian yang dibawa dari lahir, itu semua bisa dipelajari.
          Buat kamu yang pernah dan masih bercita-cita jadi seorang presiden, ayo semangat! Jadi seorang presiden bukan lagi hanya menjadi sebuah angan-angan. Semua orang bisa jadi presiden, dan itu bukanlah hal yang mustahil.
          Kenyataan ini juga berlaku buat kamu yang ingin jadi dokter, guru, pilot, polisi ataupun tentara, semuanya menjadi mungkin ketika kita mau berusaha.
          CAIYO!

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ini artikel yang jadi "tugas" dalam sebuah tujuan. halah :))

Selasa, 22 Juni 2010

UNTITLED





Mata kita berdua beradu, emosi menguap dalam kamar berukuran kecil itu. Aku dan kamu, sama-sama berdiri di atas ego masing-masing. Aku menarik nafas, dan mencoba menahan emosi yang hampir memecahkan kepalaku.
“Kamu, kenapa tega?” kataku sedetik kemudian. Menahan nafas.
“Nggak tahu. Nyak nggak tahu, Be. Jangan paksa Nyak lagi!” bentakmu tiba-tiba.
“Kamu udah lupa sumpah kita?”
Kali ini giliranmu yang menarik nafas, mencoba merangkai kata di dalam dada sebelum akhirnya menyudutkanku dengan fakta menyakitkan lainnya.
“Nyak manusia, Be.”
“Kita semua manusia.” Cetusku.
“Iya, dan kali ini Nyak berubah.”
“Maksud kamu?”
“Ya, sumpah itu tinggal sumpah. Cuma omongan kita saat itu. Dan tolong jangan paksa Nyak!”
Bumi serasa berputar kencang dalam bayanganku.
“Jadi maksud kamu sumpah kita itu gak lebih dari becandaan?” aku hampir gila. Dan kamu hanya diam tanpa jawaban. Kupejamkan mata, dan batin ini seperti tersedot ke dalam sebuah mesin waktu. Hingga ingatanku, kembali ke saat itu. Setahun yang lalu, pada sebuah halaman pendopo.


* * * *


“Bang, baksonya dua, Bang!” Kataku pada si Abang Tukang Bakso yang perawakannya nggak jauh beda sama algojo rumah potong sapi itu.
“Oke, Mas.” Jawabnya singkat.
Aku segera menyusulmu yang tengah duduk manis dan berupaya merapihkan jilbab dengan wajah kebingungan yang kentara. Aku segera duduk di kursi plastik yang telah kamu sediakan tepat di samping kananmu.
“Kenapa jilbabnya, sayang?” perlahan, aku usap kepalamu selembut mungkin.
“Ini nih, jarumnya jatoh, Be. Cariin dong sayang.” Rengekmu manja. Aku hanya menahan senyum mengagumi sikap kamu yang begitu lucu. Belakangan aku menyesal, kenapa begitu jarang aku memuji indahmu. Padahal di mataku kamu begitu sempurna.
“Iya, ini Be bantu cari ya..” Aku menunduk menghadap rerumputan lebat di bawah kaki kita. Perlahan dan seteliti mungkin mencari. Aku coba menyapu helai demi helai rumput hijau yang tumbuh begitu rapat. Di sampingku, kamu pun melakukan hal yang sama.
“Nah ini dia! Dapet, sayang!” tanpa aba-aba, kamu terlonjak kegirangan. Kamu tersenyum lebar, begitu manis. Begitu cantik. Luar biasa memikat.
“Dapet dimana, sayang?” Aku masih tersenyum mengaggumi keindahan parasmu saat itu.
“Disini, nyangkut tadi, Be. Hehe.” kamu menunjuk lengan bajumu.
“Nyangkut di baju? Kamu ini..” lagi, kuusap lembut kepalamu. “teledor ah..”
“Maklumlah, sayang. Bini Be ini kan teledornya nggak ketolongan.” Katamu sambil memasang jarum dengan hati-hati pada jilbabmu.
“Biarpun teledor, tapi tetep Be sayang lho.” Kataku apa adanya.
“Serius?”
Aku mengangguk.
“Makasi ya, Sayang.” Kamu mencubit pipiku pelan. Penuh kasih.

Mendadak si Abang Tukang Bakso muncul dari balik pohon sambil membawa dua mangkuk bakso malang pesanan kita.
“Ini baksonya, Mas.”
“Oke, thanks bang.”
“Oh, iya. Mau minum apa, Mas?”
“Aqua aja deh, Bang. Ya, Sayang ya?” Aku melirik kamu yang masih berkutat dengan jilbabmu.
“Eh, iya, Sayang.” Kamu mengangguk cepat.
“Aqua botol ya, Bang? Satu aja, Bang?” si Abang Tukang Bakso mencoba memastikan.
“Iya satu aja, Bang.”
Nggak lama si Abang Tukang Bakso udah balik lagi sambil bawa sebotol aqua yang tidak begitu dingin. Aku dan kamu makan dalam diam. Sepuluh menit kemudian, masing-masing mangkuk kita kosong. Iya, hari itu kita berdua memang kelaparan. Dan pada akhirnya kamu kekenyangan.

“Sayang..” Kamu tiba-tiba meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Iya, sayang? Mau nambah ya?”
“Eh, nggak kok. Udah kenyang Nyak tauk!” bibirmu mengerucut, tanda kamu tengah berusaha merajuk. Pertanda kamu butuh aku perhatikan lebih.
“Hehe, iya Sayang. Becanda Be kok.” Untuk kesekian kalinya, aku mengusap kepalamu perlahan. Setiap orang yang melihat, pasti tidak sulit menerka betapa aku menyayangimu.
“Kenapa tadi, sayang?” kataku kemudian.
Kamu menarik nafas panjang, seperti mencoba mencari keberanian di dalam dada. Dan wajahmu yang gugup itu, selalu berhasil membuatku bersyukur punya kesempatan untuk memilikkimu.
“Gini, Be. Ada yang mau nyak bilang ke Be.”
“Ya udah, bilang aja, sayang.”
“Tapi Nyak takut.”
“Takut apa? Udah ah, bilang aja sayang.”
“Tapi..”
Aku raih tanganmu yang sebelah lagi, mengecupnya, dan mendekapnya lembut. Mencoba menenangkan. “Sayang, jangan takut. Ada Be kok. Bilang aja ya apa yang mau kamu bilang?”
“Hmm..”
“Ayo cerita..” aku menyemanganti.
“Gini Be..”
Dan dengan nafas memburu kamu mulai menceritakan keadaan keluarga kamu sekarang. Keadaan yang membuat kamu merasa itu bisa menjadi alasanku untuk meninggalkanmu.

“Be bakalan ninggalin Nyak setelah tahu keadaan keluarga Nyak sekarang?” Tanyamu penuh kebimbangan setelah selesai bercerita.
“Apaan sih kamu? Sayang be ke kamu itu jauh lebih besar daripada apapun yang ada di dunia ini. Dan itu bukan sekedar kiasan, sayang.”
“Tapi Nyak takut..”
“Kamu takut kenapa? Be nggak akan kemana-mana.”
“Hmm, sepupu Nyak juga ada yang kasusnya kayak Nyak sekarang. Dan tahu apa, cowok dia mutusin dia di saat dia sedang terpuruk itu. Nyak takut! Nyak takut kehilangan Be juga!” Kamu hampir menangis saat itu, dan aku tahu kamu sekuat tenaga menahan agar air mata itu tidak tertumpah.
Aku tidak langsung menjawab, kudekap lebih erat lagi kedua belah tanganmu yang tanpa kamu sadari mulai berkeringat.
“Nyak sayang..”
Kamu menatapku lemah. Ketakutan yang besar terlihat nyata dari kedua bola matamu yang sore itu tampak begitu sayu.
“Be sayang kamu. Dan Be bersumpah demi nama Tuhan, Be nggak akan pernah ninggalin kamu. Apalagi Cuma karena masalah sesepele ini. Cinta Be nggak sebatas itu, Nyak. Kamu nggak akan pernah bisa mengira, betapa besarnya sayang Be ke kamu. Be Cuma pengen kamu tahu itu. Be sayang kamu.”
“Tapi Nyak takut..”
“Hey! Lihat mata Be, sayang. Be janji nggak akan ninggalin kamu. Be sumpah.”
Kamu masih membisu. Aku yakin kamu masih berusaha mencerna apa yang tengah terjadi.
“Beneran? Be nggak akan tinggalin Nyak?”
“Iya sayang. Be bersumpah. Dan Be mau kamu juga bersumpah untuk hal yang sama.”
“Iya, Be. Nyak terlalu sayang sama Be. Dan Nyak juga bersumpah nggak akan tinggalin Be. Kita akan selalu bersama.”
“Dalam suka dan duka?”
“Iya, dalam suka dan duka.”
“Selamanya..” aku menutup percakapan penuh arti sore itu dengan mengusap kepalamu sekali lagi. Andai aja kamu tahu, nggak ada keraguan sedikitpun di hati ini untuk tidak meninggalkanmu sampai nafas terakhirku.
Kamu terisak pelan.


* * * *


Dalam waktu kurang setahun, perubahan itu begitu nyata.


Banyak yang berubah, tapi tidak untuk perasaan ini yang selalu kujaga. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan. Sakit memang dikhianati orang yang begitu disayang. Tiga kali. Dan itu sepertinya bukanlah jumlah yang cukup untuk membuatku berlari dari tempat ini. Untuk mengusirku dari tempat ini. dan mengkhianati sumpah yang pernah terucap.
Aku pernah bersumpah untuk selalu menyayangimu, untuk membahagiakanmu dan juga bersumpah untuk tetap berada di tempat ini meskipun engkau telah pergi berlari menjauh.

Mungkin kini kamu telah menemukan sosok sempurna dalam dirinya. Sosok yang bisa membuatmu merasa nyaman, aman dan disayang. Tapi sadarkah kamu, aku disini juga selalu mencoba melakukan hal yang sama. Selalu merindukan kedekatan kita dulu. Selalu mendoakan kebahagianmu dari kejauhan malam.
Baiklah, bila itu pilihan yang kamu ambil. Baiklah kalau ternyata dia yang kamu pilih. Namun ingat satu hal, aku akan selalu ada untuk kamu. Aku akan berdiri di tempat ini. Menunggumu. Tanpa aku pernah tahu harus sampai kapan. Mungkin sampai hati ini letih dan aku mati berdiri. Mungkin sampai kusadari kamu bisa bahagia tanpa kehadiran lelaki bodoh ini.

Seperti waktu itu, di saat si Abang Tukang Bakso mengintip dari balik gerobaknya, aku kembali tegaskan satu hal. Bahwa aku nggak akan tinggalkan kamu, selamanya. Bahwa aku akan selalu mencintaimu dengan caraku yang sederhana. Karena kamu adalah satu-satunya pelangi yang kukenal, dan kusayang seumur hidupku. Bahagialah, sayang. Bahagialah dengan pilihanmu. Aku. Ikhlas.


* * * *



Peringatan : ini pengalaman pribadi. nyak itu panggilan mantan saya, dan be itu saya. dan maaf kalo terlalu banyak lebay2an di tulisan bodoh ini. semoga anda menikmatinya :p