Selasa, 22 Juni 2010

UNTITLED





Mata kita berdua beradu, emosi menguap dalam kamar berukuran kecil itu. Aku dan kamu, sama-sama berdiri di atas ego masing-masing. Aku menarik nafas, dan mencoba menahan emosi yang hampir memecahkan kepalaku.
“Kamu, kenapa tega?” kataku sedetik kemudian. Menahan nafas.
“Nggak tahu. Nyak nggak tahu, Be. Jangan paksa Nyak lagi!” bentakmu tiba-tiba.
“Kamu udah lupa sumpah kita?”
Kali ini giliranmu yang menarik nafas, mencoba merangkai kata di dalam dada sebelum akhirnya menyudutkanku dengan fakta menyakitkan lainnya.
“Nyak manusia, Be.”
“Kita semua manusia.” Cetusku.
“Iya, dan kali ini Nyak berubah.”
“Maksud kamu?”
“Ya, sumpah itu tinggal sumpah. Cuma omongan kita saat itu. Dan tolong jangan paksa Nyak!”
Bumi serasa berputar kencang dalam bayanganku.
“Jadi maksud kamu sumpah kita itu gak lebih dari becandaan?” aku hampir gila. Dan kamu hanya diam tanpa jawaban. Kupejamkan mata, dan batin ini seperti tersedot ke dalam sebuah mesin waktu. Hingga ingatanku, kembali ke saat itu. Setahun yang lalu, pada sebuah halaman pendopo.


* * * *


“Bang, baksonya dua, Bang!” Kataku pada si Abang Tukang Bakso yang perawakannya nggak jauh beda sama algojo rumah potong sapi itu.
“Oke, Mas.” Jawabnya singkat.
Aku segera menyusulmu yang tengah duduk manis dan berupaya merapihkan jilbab dengan wajah kebingungan yang kentara. Aku segera duduk di kursi plastik yang telah kamu sediakan tepat di samping kananmu.
“Kenapa jilbabnya, sayang?” perlahan, aku usap kepalamu selembut mungkin.
“Ini nih, jarumnya jatoh, Be. Cariin dong sayang.” Rengekmu manja. Aku hanya menahan senyum mengagumi sikap kamu yang begitu lucu. Belakangan aku menyesal, kenapa begitu jarang aku memuji indahmu. Padahal di mataku kamu begitu sempurna.
“Iya, ini Be bantu cari ya..” Aku menunduk menghadap rerumputan lebat di bawah kaki kita. Perlahan dan seteliti mungkin mencari. Aku coba menyapu helai demi helai rumput hijau yang tumbuh begitu rapat. Di sampingku, kamu pun melakukan hal yang sama.
“Nah ini dia! Dapet, sayang!” tanpa aba-aba, kamu terlonjak kegirangan. Kamu tersenyum lebar, begitu manis. Begitu cantik. Luar biasa memikat.
“Dapet dimana, sayang?” Aku masih tersenyum mengaggumi keindahan parasmu saat itu.
“Disini, nyangkut tadi, Be. Hehe.” kamu menunjuk lengan bajumu.
“Nyangkut di baju? Kamu ini..” lagi, kuusap lembut kepalamu. “teledor ah..”
“Maklumlah, sayang. Bini Be ini kan teledornya nggak ketolongan.” Katamu sambil memasang jarum dengan hati-hati pada jilbabmu.
“Biarpun teledor, tapi tetep Be sayang lho.” Kataku apa adanya.
“Serius?”
Aku mengangguk.
“Makasi ya, Sayang.” Kamu mencubit pipiku pelan. Penuh kasih.

Mendadak si Abang Tukang Bakso muncul dari balik pohon sambil membawa dua mangkuk bakso malang pesanan kita.
“Ini baksonya, Mas.”
“Oke, thanks bang.”
“Oh, iya. Mau minum apa, Mas?”
“Aqua aja deh, Bang. Ya, Sayang ya?” Aku melirik kamu yang masih berkutat dengan jilbabmu.
“Eh, iya, Sayang.” Kamu mengangguk cepat.
“Aqua botol ya, Bang? Satu aja, Bang?” si Abang Tukang Bakso mencoba memastikan.
“Iya satu aja, Bang.”
Nggak lama si Abang Tukang Bakso udah balik lagi sambil bawa sebotol aqua yang tidak begitu dingin. Aku dan kamu makan dalam diam. Sepuluh menit kemudian, masing-masing mangkuk kita kosong. Iya, hari itu kita berdua memang kelaparan. Dan pada akhirnya kamu kekenyangan.

“Sayang..” Kamu tiba-tiba meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Iya, sayang? Mau nambah ya?”
“Eh, nggak kok. Udah kenyang Nyak tauk!” bibirmu mengerucut, tanda kamu tengah berusaha merajuk. Pertanda kamu butuh aku perhatikan lebih.
“Hehe, iya Sayang. Becanda Be kok.” Untuk kesekian kalinya, aku mengusap kepalamu perlahan. Setiap orang yang melihat, pasti tidak sulit menerka betapa aku menyayangimu.
“Kenapa tadi, sayang?” kataku kemudian.
Kamu menarik nafas panjang, seperti mencoba mencari keberanian di dalam dada. Dan wajahmu yang gugup itu, selalu berhasil membuatku bersyukur punya kesempatan untuk memilikkimu.
“Gini, Be. Ada yang mau nyak bilang ke Be.”
“Ya udah, bilang aja, sayang.”
“Tapi Nyak takut.”
“Takut apa? Udah ah, bilang aja sayang.”
“Tapi..”
Aku raih tanganmu yang sebelah lagi, mengecupnya, dan mendekapnya lembut. Mencoba menenangkan. “Sayang, jangan takut. Ada Be kok. Bilang aja ya apa yang mau kamu bilang?”
“Hmm..”
“Ayo cerita..” aku menyemanganti.
“Gini Be..”
Dan dengan nafas memburu kamu mulai menceritakan keadaan keluarga kamu sekarang. Keadaan yang membuat kamu merasa itu bisa menjadi alasanku untuk meninggalkanmu.

“Be bakalan ninggalin Nyak setelah tahu keadaan keluarga Nyak sekarang?” Tanyamu penuh kebimbangan setelah selesai bercerita.
“Apaan sih kamu? Sayang be ke kamu itu jauh lebih besar daripada apapun yang ada di dunia ini. Dan itu bukan sekedar kiasan, sayang.”
“Tapi Nyak takut..”
“Kamu takut kenapa? Be nggak akan kemana-mana.”
“Hmm, sepupu Nyak juga ada yang kasusnya kayak Nyak sekarang. Dan tahu apa, cowok dia mutusin dia di saat dia sedang terpuruk itu. Nyak takut! Nyak takut kehilangan Be juga!” Kamu hampir menangis saat itu, dan aku tahu kamu sekuat tenaga menahan agar air mata itu tidak tertumpah.
Aku tidak langsung menjawab, kudekap lebih erat lagi kedua belah tanganmu yang tanpa kamu sadari mulai berkeringat.
“Nyak sayang..”
Kamu menatapku lemah. Ketakutan yang besar terlihat nyata dari kedua bola matamu yang sore itu tampak begitu sayu.
“Be sayang kamu. Dan Be bersumpah demi nama Tuhan, Be nggak akan pernah ninggalin kamu. Apalagi Cuma karena masalah sesepele ini. Cinta Be nggak sebatas itu, Nyak. Kamu nggak akan pernah bisa mengira, betapa besarnya sayang Be ke kamu. Be Cuma pengen kamu tahu itu. Be sayang kamu.”
“Tapi Nyak takut..”
“Hey! Lihat mata Be, sayang. Be janji nggak akan ninggalin kamu. Be sumpah.”
Kamu masih membisu. Aku yakin kamu masih berusaha mencerna apa yang tengah terjadi.
“Beneran? Be nggak akan tinggalin Nyak?”
“Iya sayang. Be bersumpah. Dan Be mau kamu juga bersumpah untuk hal yang sama.”
“Iya, Be. Nyak terlalu sayang sama Be. Dan Nyak juga bersumpah nggak akan tinggalin Be. Kita akan selalu bersama.”
“Dalam suka dan duka?”
“Iya, dalam suka dan duka.”
“Selamanya..” aku menutup percakapan penuh arti sore itu dengan mengusap kepalamu sekali lagi. Andai aja kamu tahu, nggak ada keraguan sedikitpun di hati ini untuk tidak meninggalkanmu sampai nafas terakhirku.
Kamu terisak pelan.


* * * *


Dalam waktu kurang setahun, perubahan itu begitu nyata.


Banyak yang berubah, tapi tidak untuk perasaan ini yang selalu kujaga. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan. Sakit memang dikhianati orang yang begitu disayang. Tiga kali. Dan itu sepertinya bukanlah jumlah yang cukup untuk membuatku berlari dari tempat ini. Untuk mengusirku dari tempat ini. dan mengkhianati sumpah yang pernah terucap.
Aku pernah bersumpah untuk selalu menyayangimu, untuk membahagiakanmu dan juga bersumpah untuk tetap berada di tempat ini meskipun engkau telah pergi berlari menjauh.

Mungkin kini kamu telah menemukan sosok sempurna dalam dirinya. Sosok yang bisa membuatmu merasa nyaman, aman dan disayang. Tapi sadarkah kamu, aku disini juga selalu mencoba melakukan hal yang sama. Selalu merindukan kedekatan kita dulu. Selalu mendoakan kebahagianmu dari kejauhan malam.
Baiklah, bila itu pilihan yang kamu ambil. Baiklah kalau ternyata dia yang kamu pilih. Namun ingat satu hal, aku akan selalu ada untuk kamu. Aku akan berdiri di tempat ini. Menunggumu. Tanpa aku pernah tahu harus sampai kapan. Mungkin sampai hati ini letih dan aku mati berdiri. Mungkin sampai kusadari kamu bisa bahagia tanpa kehadiran lelaki bodoh ini.

Seperti waktu itu, di saat si Abang Tukang Bakso mengintip dari balik gerobaknya, aku kembali tegaskan satu hal. Bahwa aku nggak akan tinggalkan kamu, selamanya. Bahwa aku akan selalu mencintaimu dengan caraku yang sederhana. Karena kamu adalah satu-satunya pelangi yang kukenal, dan kusayang seumur hidupku. Bahagialah, sayang. Bahagialah dengan pilihanmu. Aku. Ikhlas.


* * * *



Peringatan : ini pengalaman pribadi. nyak itu panggilan mantan saya, dan be itu saya. dan maaf kalo terlalu banyak lebay2an di tulisan bodoh ini. semoga anda menikmatinya :p

16 komentar:

sugahpuff mengatakan...

Pengen nangis pok bacanya. :(( I can feel your pain. Yang kuat ya pok. And this postinganku di tumblr tentang kesetiaan, mungkin sedikit banyak bisa menggambarkan pilihan kamu untuk tetap setia pada perasaan, walaupun orangnya udah ngga ada. http://sugahpuff.tumblr.com/post/715606066/kesetiaan-claradevi

Sekali lagi, yang ikhlas ya pok :)

biandadeti mengatakan...

Opaaaaaa...
Aku ga bisa blg apa2 :'(
Tp itu gak cuma mantan opa aja yg ky gitu.
Banyak perempuan yg bs ky gitu jg, ktika mendapat yg lain yg lebih dari pacarnya dulu.
Entah ''lebih'' ini di bagian mananya..
Tp aku cuma pesen, jgn sedih please.
Allah sayang sama kita, Allah tau yg terbaik buat kita. Semua itu cuma masalah waktu aja.
Smoga kita bs bersabar.
Msh ada keluarga, tmn2, smuanya yg sayang sama opa, dan opa gak sendiri.
Klopun tnyata mantan itu adalah jodoh opa, kan lebih baik lg, yg jelas untuk skrg ikhlasin dulu, berdoa trus, smoga dikasih pencerahan sama Allah.
Dan sibukin diri, ayooo opaaa aku kangen tulisan2 opa :)

meluvcoffee mengatakan...

Gk bisa ngomong banyak, soalnya gw uda tll bawel d YM n sms.. :P
Kita mmg gk tau apa yg akan terjadii di menit bahkan detik yg akan datang opa.,
Tapi ya begitulah hidup..
Kalimat fav yg gue dapet dari salah satu buku mini mungkin cukup buat bekal opa..
:)
" To have.. Not to hold.. ", begitu deh tulisannya..
Gw yakin, opa pasti kuat.!

Anonim mengatakan...

Oh..
Hmmm.. Sabar ya, apapun yang sedang terjadi padamu. Itu akan membuatmu lebih siap untuk org special yang akan bersamamu. Kau dikuatkan setiap hari oleh NYA dgn cara-cara yg mungkin saat ini belum bisa kau terima. Cheers time will heal. Kau akan disiapkan dengan org yg lebih baik. Semoga comment ku ini membantu mu :)

Salam,
Rahne

bayusaja mengatakan...

makanya bang, jangan memberikan sepenuh hati abang untuk dia, sisakan sedikit untuk saat-saat seperti ini, karena cinta gak ada asuransinya bang.

semangat!
forza inter! :))

vNaruTo mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
vnaruto mengatakan...

semangat wandy :D

it's not the end of your world :D

diandian mengatakan...

setuju sama bayusaja :D

engga apa2, kan masih ada teman2 yang menemanimu. jangan bersedih, cause everything's gonna be okay :P

tuannico mengatakan...

pria singLe ini tidak dapat memberi pendapat apa apa..
hanya berdoa yang terbaik buat opa..

"kita tak pernah benar benar berhenti mencintai seseorang. kita cuma harus beLajar hidup tanpa dia.“

semnagt! awas asam urat!

Anonim mengatakan...

Wandiiii :'(
Semangat yaaa. I feel U. Mgkin kmu anggap saat ini g ada yg bisa ngertiin perasaan kamu. Tapi aku pernah ngerasain gagal juga. Memberi maap menerima lagi hanya untuk disakiti kembali.
:') mereka pacar dan sahabatku. Yg kulakukan saat itu bersedih..bersedih..dan bersedih.. Rasanya ingin jegur kawah. ;p
Kamu, aku, dan orang lain pasti butuh waktu u/ bangkit lagi. Sampai kapan? Tidak ada yg tau..
Tapi buktinya aku bisa.. :))
Semangat yaa wan. mgkin ini ungkapan klise: "kamu pasti mendapatkan yg terbaik." Tapi itu benar. Pelan2 saja, :')
Tapi ttp semangat yah. Kamu ttp bisa bernafas tanpanya. Itu membuktikan kamu bisa menjalani hari tanpanya.
*hug*
Emh..kalo saran fera sih, berhenti mencari tau..jgn tanyakan kabarnya. Jgn cari tau apa yg dia lakukan.sementara..sementara..
Cheeerrrsss!! Semangaaat! *towel pipi*
(Fera)

Fransisca Besty mengatakan...

demi deh kak, aku mau nangis, aku gak bisa bilang apa-apa. sabar ya kak :)
tapi aku yakin, di luar sana pasti ada pelangi yang lebih indah yang lagi Tuhan siapin untuk kakak. semangat! :)

.: PoetZ :. mengatakan...

I've been there, pok, and maybe for so many times. namun aku salut dengan keteguhan hatimu, pok. but remember, everything has its limit.

semangat yah brother, kalo butuh apa-apa (baca : cendol) I'll be always available *apamaksud???*

:)

noviinim mengatakan...

huhuuuu...
terharu bacanyaa...merinding..
the best is yet to come :)
semangapppp!
eh semangatt!!hihihihi

nadya demadevina mengatakan...

Akhirnya posting lagi kak :)
Kangen banget loh ama postingan-postingannya.

Tapi yang ini sedit bangeeeeeeet. Sabar ya kak. Ini yang terbaik menurut Allah. Insya Allah.

ika hardy mengatakan...

sad post...
be tough n be strong!!! :)

3+4 mengatakan...

Hahaha, maaf baru bisa komen sekarang, wan. Soalnya aku bakalan “panas dingin” kalo ada orang ngapdet blog sementara aku blogku sendiri kayak “rumah hantu” #alesan #ditonjok Hmm, baiklah. Saat komenku ini mendarat mungkin apa yang kamu tuliskan di postingan ini sudah berbeda kejadiannya. Memiliki dan kehilangan adalah pasangan sejati. Seperti halnya hidup dan mati. Semua yang berawal dari memiliki pasti berakhir dengan kehilangan. Pun saat kita mencintai dan memiliki seseorang, pada saat yang bersamaan pula kita harus siap untuk melepasnya suatu hari nanti. Namun ketulusan untuk menyayangi takkan pernah sia-sia dan akan kembali lagi pada diri kita sendiri. Semangaaattt! Meski Jerman dan Belanda kalah #halah #malahgaknyambung