Jumat, 23 Juli 2010

Mau jadi Presiden?




Waktu kecil kita pasti sering ditanya soal cita-cita. Kebanyakan sih pengen jadi dokter, guru, atau mungkin pilot. Ada pula yang bercita-cita jadi polisi, tentara atau mungkin pembalap. Tapi buat beberapa orang, cita-cita yang paling tidak mungkin adalah menjadi Presiden atau Kepala Sebuah Negara.
           Kenapa sih menjadi seorang Presiden itu kerap dinilai banyak orang sebagai cita-cita yang ketinggian? Atau malah banyak yang menyebut itu hanya sebatas angan-angan atau mimpi kosong di siang bolong.
           Tapi jangan salah, bercita-cita menjadi serang presiden bukanlah hal yang tidak mungkin. Coba tanyakan hal ini pada mantan presiden ke-42 Amerika Serikat, Bill Clinton. Sejak duduk di sekolah menengah, Beliau sudah bertekad menjadi seorang presiden lho setelah bertemu John Kennedy yang menjabat sebagai presiden Amerika saat itu. Hal itu begitu memotivasinya hingga dia berhasil mewujudkan cita-citanya. 
           Well, modal apa saja sih yang harus dimilikki oleh seorang presiden? Jika kita melihat sekilas dari sosok para presiden dari seluruh negara di dunia, satu hal yang pasti, seorang presiden itu harus bisa menjadi panutan bagi setiap warganya—baik yang ikut memilihnya ataupun tidak. Selain itu, presiden juga dituntut untuk tanggap dengan apa saja yang diinginkan rakyatnya. 
          Nah, sebelum kamu beneran jadi Presiden Republik Indonesia, ada baiknya kamu menyimak beberapa hal yang mungkin akan kamu hadapi dalam mengemban tugas dan harapan seluruh rakyat Indonesia.Check this out, guys.. 
 

1.     Pariwisata

          Kita semua sudah sama-sama tahu kan, bagaimana terkenalnya Bali di dunia? Bahkan beberapa film bikinan Hollywood juga sempat mengambil lokasi syuting di pulau surga itu. Keindahan pantainya nggak bisa dipungkiri lagi, juga perpaduan nuansa alam pedesaan yang sudah dikelolah dengan baik.
           Tapi, pariwisata Indonesia bukan hanya tentang Bali. Masih ada Bunaken, Lombok, atau Pulau Komodo. Bahkan Pula Komodo belakangan dicalonkan sebagai 7 keajaiban dunia yang baru.
           Sayangnya, promosi yang dilakukan oleh pemerintah masih kurang gencar, masih sedikit tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapore atau Thailand dalam hal promosi pariwisata. Iklan-iklan promosi pariwisata mereka sudah sering wara-wiri di TV nasional kita, bahkan lebih sering daripada iklan wisata pemerintah kita sendiri. Malu dong, kalau ada bule yang tahu Bali, tapi enggak tahu Indonesia. 

2.     Pendidikan

           Wajib sekolah sembilan tahun. Hal ini lah yang kerap disuarakan oleh pemerintah bagi rakyat Indonesia lebih dari satu dasawarsa ini. Dana yang digelontorkan untuk sektor ini juga tidak sedikit dan jumlahnya terus bertambah setiap tahunnya.
           Tapi dengan dana bertriliyun-triliyun itu, masyarakat di pelosok-pelosok nusantara seperti di Papua, masih belum tersentuh pedidikan yang layak. Mulai dari gedung sekolah yang dibangun apa adanya tanpa dinding, sampai dengan masalah minimnya tenaga guru yang juga digaji dengan sangat minim.
          Selain itu, di kota-kota besar juga masih banyak ditemukan anak-anak putus sekolah karena kesulitan biaya. Meskipun biaya sekolah sudah digratiskan, tapi tak jarang ada pihak sekolah yang putar otak mengambil keuntungan dari uang buku, LKS atau sumbangan-sumbangan hantu lainnya. 

3.     Pengangguran

           Jumlah pengagguran semakin bertambah setiap tahunnya, dan lebih dari sepertiganya adalah pengagguran sarjana.
           Pemerintah telah berupaya mengatasi hal ini dengan segala cara, termasuk dengan penyediaan modal bagi mereka yang ingin memulai berwiraswasta. Namun, seperti segala macam birokrasi yang ada di Indonesia, hal ini masih sulit dalam prakteknya. Sehingga buat anak-anak muda yang pengen jadi entrepreneur, kebanyakan dari kita sudah takut atau malah males duluan membayangkan ribetnya birokrasi yang ada. 

4.     Sepakbola

          Di banyak negara di dunia, sepakbola kerap dianggap sebagai agama kedua. Begitu pula di Indonesia. Keinginan rakyat Indonesia untuk menyaksikan timnas-nya berlaga di piala dunia telah menyentuh klimaksnya. Namun hal itu urung terjadi akibat mandeg-nya prestasi timnas kita. Pembinaan dan sistem liga yang kurang profesional dituding sebagai biang kerok dari pusaran masalah ini.
          Selain itu, ulah para suporter garis keras, seperti yang kerap ditunjukan oleh Bonek (sebutan suporter setia Persebaya) juga butuh perhatian khusus. Kampanye perdamaian antar suporter dalam nafas sepakbola harus gencar digalakkan. Demi terciptanya suasana sepakbola nasional yang kondusif dan penuh cinta damai. 
 

          Keempat hal di atas belum bisa dijadikan patokan jika kamu mau terjun ke dunia politik praktis dan mencalonkan jadi seorang presiden. Tapi mungkin cukuplah untuk bisa meraih hati rakyat.
          Masih banyak lagi hal yang harus dibenahi, dan diperbaiki. Apalagi mengingat negara kita masih tengah berlari mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju lainnya. 
          Jadi, untuk menjadi seorang presiden enggak melulu harus bergelar minimal doktor atau punya IQ jenius kan? Hal-hal yang berkaitan dengan sikap kepemimpinan lebih dipentingkan, dan itu bukanlah keahlian yang dibawa dari lahir, itu semua bisa dipelajari.
          Buat kamu yang pernah dan masih bercita-cita jadi seorang presiden, ayo semangat! Jadi seorang presiden bukan lagi hanya menjadi sebuah angan-angan. Semua orang bisa jadi presiden, dan itu bukanlah hal yang mustahil.
          Kenyataan ini juga berlaku buat kamu yang ingin jadi dokter, guru, pilot, polisi ataupun tentara, semuanya menjadi mungkin ketika kita mau berusaha.
          CAIYO!

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ini artikel yang jadi "tugas" dalam sebuah tujuan. halah :))